PERJALANAN HIDUP AMANG TOBANG
SENGEL HARAHAP
gelar
BAGINDA PARBALOHAN
Sekapur Sirih
Dengan terlebih dahulu mengucapkan Syukur Alhamdulillah
kepada Allah Subhanahu Wataala, dan bersyukur padaNya, menyampaikan salam dan
selawat kepada junjungan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, pembuatan
blog Amang Tobang Baginda Parbalohan ini bertujuan mengenang kembali hijrah
yang dilakukan marga Harahap asal Hanopan (Sidangkal) dari Bunga Bondar
ke Hanopan (Sipirok) yang beliau lakukan bersama adik-adik, kerabat, dan
lainnya diwaktu yang silam. Marga Harahap dari Hanopan (Sidangkal) sebelumnya
terpaksa meninggalkan kampung halaman di Angkola karena munculnya Perang Paderi
(1825-1838) yang menyerang dari Sumatera Barat.lalu merambah ke Angkola. Meski
telah masuk ke zaman Hindia Belanda, setelah zaman kerajaan-kerajaan Batak yang
merdeka berlalu, namun Amang Tobang banyak menerima warisan pengetahuan dan
pengalaman orang tua dan kakek yang mengungsi dari Angkola ke Lobu Sinapang di
Padang Bolak, dan orang tua yang kemudian pindah ke Bunga Bondar, dimana beliau
lahir dan dibesarkan. Amang Tobang sempat mendapat pendidikan Barat mengkuti
sekolah Gouvernement di Sipirok, lalu menjadi Raja Pamusuk pertama di Hanopan,
karena berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru.
Banyak didikan disampaikan Amang
Tobang kepada ketiga putranya, terlebih beliau seorang Raja Pamusuk di kampung
marga Harahap yang baru itu. Sejak masih tinggal di kampung moranya, Amang
Tobang telah menjadi seorang penggemar berat Adat Angkola. Amang Tobang
mengajarkan: ”Tua ni na mangholongi, ni haholongi”. Amang Tobang juga
memperlihatkan apa yang dinamakan: “hormat mar mora”, terhadap marga Siregar
dari Bunga Bondar yang menda-tangkan ina (ibu) kepada marga Harahap di Hanopan;
”manat mar kahanggi” mulai: Bunga Bondar, Hanopan, hingga Panggulangan; untuk
memelihara persaudaraan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga), dengan: “elek mar
anak boru” ke Simarpinggan dan lainnya. Adapun kakek Amang Tobang ialah: Demar
Harahap, gelar Ja Manogihon, ketika itu dikhabarkan berdiam di Hanopan
Sidangkal (kini masuk kecamatan Padang Sidempuan Barat) tidak jauh dari Padang
Sidempuan, sedangkan ayahnya Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan. Mereka terpaksa
mengungsi meninggalkan Angkola ketika Perang Paderi merambah daerah itu.
Meski pemerintah Hindia Belanda,
tampaknya tidak mencampuri urusan pemerintahan kam-pung yang semuanya masih
berjalan menurut Adat Batak demi kesejahteraan dan kerukunan hi-dup warga
masyarakat, terkecuali keharusan membayar belasting (pajak) dan bekerja rodi,
akan tetapi Belanda suka juga mencampuri urusan yang berhubungan dengan siapa
yang sebaiknya menjadi Kampong Hoofd agar hubungan dengan hakuriaan bentukan
Belanda dengan kampung-kampung dapat berjalan lebih harmonis. Selama menjadi
Raja Pamusuk, Amang Tobang berkantor di rumahnya, Bagas Godang Hanopan,
meskipun demikian beliau tidak sempat meninggalkan foto kenangan tentang
dirinya dengan Inang Tobang untuk disampaikan kepada generasi penerus
yang ingin mengetahui keduanya.
Pada bulan Desember tahun 1927, Amang Tobang Baginda
Parbalohan menyiapkan rombongan yang akan berangkat ke Tanah Suci terdiri dari:
beliau, istrinya, adiknya, anaknya, dan cucunya. Mereka ingin melaksanakan
rukun Islam ke-5 dengan menunaikan ibadah Haji di Mekah dan Madinah, Saudi
Arabi, dengan naik kapal laut dari Medan. Akan tetapi dalam perjalanan pulang
ke Tanah-Air, beliau berpulang ke Rachmatullh di Jeddah lalu dimakramkan di
kota pelabuhan itu. Amang Tobang telah berhasil membesarkan dan membimbing 3
(tiga) orang anak menjadi manusia dewasa, berpendidikan Sekolah Melayu, dan
berkeluarga, dan menyaksikan kehadiran para cucu yang tumbuh dan
berkembang.
Akhirulkalam, tak ada gading yang tidak
retak, maka apabila dalam perjalanan hidup Amang Tobang Baginda Parbalohan dan
Inang Tobang silam ada prilaku, perbuatan, dan hal-hal lain yang kurang
berkenan di hati para kahanggi, anakboru, dan mora, begitu pula lainnya,
sudilah kiranya semuanya memaafkan kekurangan mereka. Dalam lubuk hati kami
pomparan (keturu-nan) yang paling dalam bersemayam rasa syukur dan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wataala yang telah
menganuge-rahkan Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang sebagaimana
apa adanya.
Zaman Hindia Belanda
Pendahuluan
Belanda masuk
ke Tanah Batak dari Sumatera Barat tahun 1833 masih dalam suasana Perang Paderi
(1825-1838) yang berkecamuk. Karena itu dapat dimengerti serdadu-serdadu Belanda
mendapat sedikit perlawanan dari Raja-raja
setempat saat masuk dari Sumatera Barat ke Tapanuli lewat Rao di Mandailing.
Belanda kemudian membangun benteng Fort Elout di Panyabungan, untuk menyatakan
keberadaannya di Tanah Batak. Setahun kemudian Belanda membentuk pe-merintahan
sipil di Tanah Batak yang dipimpin seorang Asisten Residen berkedudukan di
Natal.
Dengan demikian
penjajahan Belanda atas Tanah Batak telah dimulai, dan zaman pemerintahan
Hindia Belanda hadir di Tanah Batak. Memasuki zaman Hindia Belanda, Padang
Sidempuan menjadi kota besar di Angkola, menjadi pusat pemerintah Hindia
Belanda mengatur Afdeeling Tapanuli Selatan, sekaligus menjadi ibukota afdeeling
itu.
Pemerintah Hindia
Belanda berakhir dengan kedatangan serdadu-serdadu Fascist Jepang yang menrobos
masuk ke nusantara di awal Perang Dunia ke-II, lalu menghalau pemerintah Hindia
Belanda yang berkedudukan di Sibolga keluar meninggalkan Tanah Batak, dan memaksa
Ge-neraal-Majoor Overtrakker berkedudukan di Sumatera menyerah tidak bersyarat tanggal
28 Maret 1942 kepada Jepang tidak jauh dari Kotacane, menyebabkan penjajahan
Belanda atas Tanah Batak berjalan 109 tahun lamanya.
Desa Asal
Bunga Bondar adalah sebuah desa yang berada di jalan-raya yang
menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan Soborongborong di Kabupaten
Tapanuli Utara, lewat Sipa-gimbar, Pangaribuan, dan Sipahutar. Jalan ini
awalnya adalah sebuah lintasan rimba yang dilalui warga yang bepergian antar
kampung, lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diubah menjadi ja-lan-raya yang menghubungkan
Onderafdeeling (sub-bagian) Tapanuli Selatan dengan Onder-afdeeling Tapanuli
Utara, dikenal dengan nama: “jalan pahulu”. Adapun jalan lain, yang juga menghubungkan
kedua Onderafdeeling, ialah yang menghubungkan Sipirok dengan Tarutung lewat Sarulla dan Onan
Hasang dikenal dengan: “jalan pahae”. Kedua jalan ini lalu berubah menjadi jalan-raya
sekaligus uratnadi ekonomi kedua onderafdeeling dikemukakan, yakni daerah Angkola
yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan daerah Toba yang terdapat di Kabu-paten
Tapanuli Utara.
Peta Kabupaten Tapanuli
Selatan
Baginda Parbalohan
Dewasa ini Bunga Bondar, darimana Amang Tobang Sengel Harahap, gelar
Baginda Parbalohan berasal terletak di Kecamatan Arse, Kabupaten Sipirok. Amang
Tobang adalah anak kedua dari enambelas orang bersaudara datang dari dua orang ibu,
tetapi putra sulung, bernama kecil Sengel Harahap lahir di Bunga Bondar
tanggal… bulan… tahun 1846. Ayahnya: Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja
Hanopan dan ibunya Bolat Siregar, gelar Naduma Parlindungan, putri Ja Mampe,
cucu Sutan Diapari dari Bunga Bondar. Amang Tobang kemudian membawa hijrah ke-dua
orang tuanya pindah ke Hanopan dari Bunga Bondar, dan tinggal bersamanya di
Hanopan sampai akhir hayat mereka. Amang
Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parba-lohan adalah seorang marga
Harahap awalnya tinggal di Bunga Bondar, lalu setelah memperoleh kesempatan mamungka
(mendirikan) kampung yang baru di luhat Sipirok dari Raja Pamusuk yang memerintah
di Bunga Bondar, berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru di Luhat
Sipirok yang dinamakan Hanopan, dan menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung itu.
Nama Hanopan diambil dari kampung bernama sama dekat Sidangkal di jalan-raya
menuju ke Simarpinggan dari Padang Sidempuan, darimana Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, kakek A-mang Tobang Baginda
Parbalohan, berasal sebelum Perang Padri berkecamuk masuk ke Angkola.
Gambar ini adalah foto keponakan Baginda Parbalohan
yang mirip dengan beliau.
Amang Tobang
Baginda Parbalohan dibesarkan dalam lingkungan keluarga berpengaruh di Bunga
Bondar dimana beliau lahir dan dibesarkan. Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
Adat Angkola yang masih kental dan menjadikannya seorang penggemar Adat Batak tempatnya
berdiam. Akumulasi pengetahuan Adat Batak Angkola didapat dari menghadiri
beragam perhelatan di Bunga Bondar dan kampung lain berdekatan, menyadarkan
dirinya akan perlu adanya sebuah kampung marga Harahap yang baru. Selain dari
itu ia juga menyadari bahwa Bunga Bondar pun telah padat pula
penduduknya. Maka ketika Raja Pamusuk dari Bunga Bondar penguasa Luhat Sipirok memberi
kesempatan kepada warganya untuk mamungka kampung yang baru, anakboru marga
Siregar di kampung itu juga diberi kesempatan yang sama. Itulah sebab-nya mengapa
Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, anak sulung Alaan Harahap bersama adik-adik
dan kerabat lainnya lalu meninggalkan Bunga Bondar dalam satu rombongan masuk kedalam
rimba membawa perbekalan untuk mendirikan kampung yang baru. Dengan demikian akan
terbuka tempat kediaman yang baru dengan lahan tempat nencari nafkah yang dapat
diwa-riskan kepada anak cucu yang datang kemudian.
Pada
pagi hari mereka telah meninggalkan Bunga Bondar menelusuri jalan rimba yang biasa
dilalui penduduk bepergian antar kampung di Luhat Sipirok. Mereka menerobos hutan
lebat untuk tiba di kaki Dolok Nanggarjati, dimana kampung yang akan dipungka diperkirakan
berada, tidak jauh dari Huta Padang yang beru ada. Di Bunga Bondar Sutan Ulubalang
masih Raja Pamusuk yang memerintah, setelah wafat lalu digantikan adik
kandungnya Sutan Doli. Raja Pamusuk Bunga Bondar saat itu tengah menghadapi serbuan
serdadu-serdadu Belanda yang datang dari Sipirok, setelah berhasil masuk ke
Tanah Batak dari Sumatera Barat lewat Man-dailing dalam Perang Paderi tanpa
mendapat perlawanan berarti.
Belanda
perlu menaklukkan kerajaan Bunga Bondar ketika itu, oleh letaknya yang
strategis di jalan-raya yang menghubungkan Angkola di Tengah dengan Toba di Utara.
Setelah berperang 4 tahun lamanya, maka pada tahun 1851 Belanda berhasil
mematahkan perlawanan Sutan Doli yang bertakhta, lalu menyingkirkan para penantangnya
di kampung marga Siregar itu ke pem-buangan di Jawa. Lebih dari satu abad kemudian,
dalam agresi militer Belanda ke-II tahun 1945 serdadu-serdadu Belanda datang
lagi ke Bunga Bondar untuk menduduki kampung marga Sire-gar itu untuk kedua
kalinya, akan tetapi kampung itu telah ditinggalkan warganya untuk mela-kukan perang
gerilya.
Setelah
berhari berjalan kaki, sampailah rombongan ke sebuah tempat yang bernama: “Hayuara
Bodil”, tidak jauh dari Arse Jae yang sekarang. Mereka mencoba menanam benih yang
dibawa: padi, jagung, dan lainnya, dan ingin mengetahui apakah tempat ditemukan
baik untuk tempat mendirikan kampung untuk bermukim. Kawasan yang mereka jelajahi
saat itu tergolong rimba yang dikatakan orang berhantu, juga tempat harimau
Sumatera mencari mangsa. Akan tetapi kali ini usaha mereka gagal. Rombongan lalu
pindah mencari tempat yang lain, dan setelah berjalan ke Selatan tibalah mereka
di suatu tempat yang bernama: Padang Suluk, tidak jauh dari Huta Padang. Di
tempat akhir ini upaya mereka menanam benih dibawa juga tidak berhasil. Kemudian
rombongan berpindah lagi, kini agak ketengah untuk menemukan lokasi berikutnya,
dan ternyata di tempat ketiga benih-benih ditanam ternyata tumbuh subur.
Rombongan lalu memutuskan mendirikan
kampung di tempat akhir ini, dan menamakannya: “Hanopan” di Luhat Sipirok, untuk
mengenang Hanopan dekat Sidangkal yang ditinggalkan kakek dan ayah Amang Tobang
Baginda Parbalohan silam, ketika Perang Paderi berkecamuk dan merambah ke
Angkola. Lebih dari dua tahun lamanya rombongan mengembara meninggal-kan Bunga
Bondar sebelum kembali untuk mengabarkan keberhasilan. Bagi pomparan Tongku
Mangaraja Hanopan yang datang kemudian, Hanopan dekat Sidangkal adalah “kampung
asal” marga Harahap yang dapat dinamakan: “Hanopan-1”, sedangkan Hanopan di luhat
Sipirok ialah kampung yang dipungka marga Harahap asal dari Hanopan-1 yang dinamakan:
“Hanopan-2”.
Kedua Hanopan
telah menjadi tempat yang berharga bagi mereka. Adapun jalan rimba yang di-lalui
rombongan silam, telah diubah pemerintah Hindia Belanda menjadi bagian dari
jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan Siborongborong
di Kabu-paten Tapanuli Utara, lewat: Bunga Bondar, Hanopan-2, Simangambat, Sipagimbar,
Pangaribu-an, dan Sipahutar. Pemerintah Hindia Belanda telah mengerahkan
penduduk bekerja rodi (kerja paksa) mengubah jalan rimba yang dilalui penduduk menjadi
jalan-raya yang dilewati kendaraan bermotor. Setelah berbagai persyaratan Adat
Batak Angkola dipenuhi, maka pada tanggal 23 Desember 1885, Hanopan-2 yang dipungka
marga Harahap dari Bunga Bondar di Luhat Sipirok diresmikan jadi “Huta”, sekaligus Bona Bulu marga
Harahap pendirinya. Pada peresmian Hano-pan-2, Amang Tobang Baginda Parbalohan
diangkat menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung marga Harahap dalam usia 39
tahun. Amang Tobang berpendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok silam,
menjadi Raja Pamusuk Hanopan sesuai Adat Batak yang berlaku di Angkola sejak
tahun 1885, dan memimpin kampung selama 43 tahun (1885-1928).
Memasuki
zaman kemerdekaan, pemerintah NRI Keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung
ketika itu mengeluarkan ketetapan Residen Tapanuli ber-No.: 274 tertanggal 14
Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947 ditandatangani Dr. Ferdinand
Lumban To-bing. Adapun isi keputusan Residen Tapanuli saat itu ialah: Para Raja
yang menjabat di peme-rintahan, maupun mereka yang berhubungan dengan kegiatan
publik di seluruh Tanah Batak, a-papun jabatan diemban, diberhentikan dengan
hormat dengan ucapan terimakasih. Para penye-lenggara pemerintah yang kemudian menggantikan
akan dipilih secara demokratis. Dengan de-mikian istilah Kampong Hoofd (Kepala
Kampung) warisan Hindia Belanda sebelum Perang Du-nia ke-II silam diambil alih
pemerintah NRI di Tanah Batak, dan digunakan memasuki zaman kemerdekaan hingga saat
ini. Catatan tanggal peresmian Hanopan menjadi “Huta” masih dapat diemukan pada
tiang pe-nyangga Sopo Godang Hanopan.
Keterangan Kampong
Hoofd
Setelah Arse,
Huta Padang, dan Hanopa dipungka, bermunculan kampung-kampung lain dalam DAS
(Daerah Aliran Sungai) Aek-Silo, seperti: Napompar, Roncitan, Huta Tonga,
Simatorkis, Bahap, Purba Tua (Pagaran Tulason), Muara Tolang dan Tapus. Hanopan
dibawah kepimpinan Baginda Parbalohan tidak hanya terkenal dalam DAS Aeksilo,
tetapi juga hingga keluar luhat Sipirok hingga ke Mandailing. Baginda
Parbalohan mendapat karunia tiga orang anak, semua-nya laki-laki, yakni: Abdoel
Hamid Harahap, gelar Soetan Hanopan, juga bernama: Tuan Datu Singar; Kasim
Harahap, gelar Mangaraja Elias Hamonangan; dan Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal.
Dengan berpulangnya Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor asal Bunga
Bondar, ia lalu digantikan Inang Tobang Ompu ni Kasibun.
Marga Harahap
Keluarga-keluarga yang bermarga
Harahap dimanapun berada, baik Tapanuli maupun tanah perantauan sesungguhnya
seasal, artinya mereka datang dari nenek moyang pemersatu yang sama oleh
kesamaan marga. Akan tetapi karena
berbilang abad waktu telah berlalu, sang pe-mersatu yang menjadi asal marga begitu
juga keterangan yang ditinggalkannya tidak dapat dite-mukan lagi, maka tinggal
nama marga semata. Lalu tampil marga-marga Harahap berasal dari berbagai Huta
(Kampung) dan Luhat (Daerah), dan tempat lainnya. Sementara itu ada keluarga-keluarga
marga Harahap menyatakan diri sebagai Sipungka Huta dan tempat-tempat mereka
ber-diam di Tanah Batak, kemudian
terdapa juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak me-nyatakan diri mereka
sebagai pendiri kampung, namun memiliki hubungan kekerabatan dengan marga
Harahap tertentu yang terdapat di Bona Bulu.
Kini masih banyak dijumpai
keluarga-keluarga marga Harahap yang tahu benar kampung-ka-mpung yang dipungka
leluhur di Tapanuli silam dari peninggalan diwarikan, antara lain: Bagas Godang
(Rumah Adat), sawah, ladang, kahanggi, catatan keluarga, serta para saksi. Di lain
fihak terdapat juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak lagi mengetahui kampung
asal di Tanah Batak silam, lalu berusaha menemukan asal-usul mereka lewat
hubungan kekerabatan de-ngan keluarga-keluarga bermarga Harahap Sipungka Huta
sejauh yang dapat ditelusuri lewat hubungan kekerabatan yang masih diketahui tersimpan
dalam ingatan dan tarombo. Begitu juga
marga-marga Harahap yang telah berdam bergenerasi di tanah perantauan;
mereka juga berusaha menemukan asal usul di Bona Bulu silam lewat hubungan
kekerabatan dengan para sipungka hu-ta menurut garis laki-laki atau
patrilenial, seperti: ayah, kakek, Amang Tobang, dan seterusnya keatas.
Dalam komunitas Batak dikenal “suhut”
untuk menyatakan keluarga kecil yang ada dalam masyarakat terdiri dari: ayah,
ibu, dan satu atau lebih anak. Selain dari itu ada pula “kahanggi” untuk menyatakan kumpulan keluarga yang bermarga
sama, datang dari ayah, kakek, Amang Tobang, dan lainnya keatas yang masih
bersaudara. Agar hubungan kekerabatan tidak hilang ditelan waktu, menempuh
generasi, menelusuri zaman oleh suku-bangsa Batak dibuatlah taro-mbo. Adapun yang
disebut akhir ini tidak lain dari daftar nama orang-orag yang bermarga sama, awalnya
disuratkan pada kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara Batak,
melahirkan bangun piramida. Dalam bahasa Indonesia tarombo disebut “pohon keluarga”,
terjemahan dari bahasa Belanda: “stamboom”, atau bahasa Inggris: “family tree”.
Tarombo dalam masyarakat Batak adalah kumpulan nama-nama kahanggi yang mempunyai
hubungan kekerabatan datang suatu marga, dalam hal ini marga Harahap dari
Hanopan menurut garis kebapaan, atau patrilenial.
Dengan kedatangan agama Islam yang
masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 Masehi, dan ma-suk ke Tanah Batak dalam
Perang Paderi yang memperkenalkan aksara Arab, tarombo lalu beralih disuratkan
dalam aksara Arab. Dan dengan diperkenalkannya huruf Latin oleh pemerintah
Hindia Belanda lewat pendidikan Barat menjelang abad ke-20, tarombo yang disimpan
dan dipelihara marga-marga Harahap dari berbagai Huta dan Luhat di Tapanuli
Selatan lalu dialihkan penyuratannya ke aksara Latin. Dari tarombo demikian dapat
diketahui hubungan kekerabatan keluarga-keluarga yang bermarga Harahap datang
dari beragam kampung di Bona Bulu sampai dengan mereka yang telah bermukim di tanah
perantauan. Lewat tarombo demikian dapat juga diketahui pertalian darah antara
berbagai marga di Tanah Batak yang menjadikan keluarga besar bernama: “Dalihan
Na Tolu (Tungku Yang Tiga)”, dalam ko-munitas Batak di Tapanuli, maupun yang telah
lahir dan besar di tanah perantauan: Nusantara
dan Mancanegara.
Hingga saat ini tarombo masih dipelihara dan dikembangkan
oleh berbagai marga dalam ko-munitas Batak mulai dari Bona Bulu sampai ke tanah perantauan
oleh para Sipungka Huta, baik diperoleh dari peninggalan generasi pendahulu,
maupun yang kemudian dikembangkan lewat penelusuran ulang, untuk disampaikan kepada
generasi penerus di kampung halaman maupun tanah perantauan. Kota Padang
Sidempuan dengan wilayah sekitarnya menjadi asal marga Harahap di Bona Bulu
yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan. Di Utara terdapat kampung-kampung
asal marga Harahap, seperti: Losung Batu, Hutaimbaru dan Siharangkarang. Di
tengah kota ada pula Batuna Dua yang menjadi kampung asal marga Harahap. Di
Timur kota, kini termasuk kecamatan Padang Sidempuan Timur, ada pula kampung
marga Harahap yang berasal dari Pargarutan. Di Selatan kota terdapat juga kampung
marga Harahap yang berasal dari Pijor Koling. Di sebelah Barat kota, kini
termasuk kecamatan Padang Sidempuan Barat, terdapat kampung marga Harahap yang
berasal dari Hanopan dan Sidangkal.
Sipirok
Sejak
pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan pendidikan di Tanah-air tahun 1880,
dalam rentang waktu sekitar satu abad, tidak sedikit putera dan puteri dari
beragam Luhat dan Huta di Tanah Batak mengenyam pendidikan Barat, mulai rendah
di daerahnya, menjadi: murid Sekolah Gouvernement (Sekolah Pemerintah) yang
dinamakan: Volks School (Sekolah Rakyat) 3 tahun: terdiri dari kelas I, II, dan
III, berbahasa Batak dan Melajoe, tulis Latin; begitu juga kelanjutannya saat itu: Vervolg School
(Sekolah Sambungan) 2 tahun, terdiri dari: kelas IV dan V. Untuk meneruskan pelajaran
ke Vervolg School, murid-murid perlu diseleksi terlebih dahulu melaui ujian saringan. Kemudian kedua jenjang pendidikan digabung yang
kemudian dikenal dengan nama: Sekolah Melajoe.
Setelah
memasuki usia sekolah Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan kemudian
dikirim orang tuanya Sipirok untuk mengikuti Sekolah Melajoe di kota itu. Dan se-telah
menerima tanda: “Tammat Belajar” dari perguruan, beliau lalu kembali ke kampung
asal-nya di Bunga Bondar.
Kilas
Sejarah
Sebelum orang Belanda masuk ke Tanah
Batak tahun 1833, wilayah itu sebetulnya telah terbagi kedalam berbagai Luhat, dan
setiap daripadanya mempunyai pemerintah sendiri yang ber-sifat otonom; mereka
belum mengenal adanya pemerintah pusat yang mengatur kehidupan mereka dan rakyatnya
dari luar. Diantara berbagai Luhat yang ada di Tapanuli Selatan dapat disebutkan:
Luhat Sipirok, Luhat Angkola, Luhat Marancar, Luhat Padang Bolak, Luhat Baru-mun,
Luhat Mandailing, Luhat Batang Natal, Luhat Natal, Luhat Sipiongot dan Luhat
Pakantan. Seluruh Luhat yang ada di Tapanuli menempati kawasan sebelah Utara
pulau Sumatera: di Utara berbatasan dengan Aceh, di Timur berbatasan dengan Tanah
Melayu, di Selatan berbatasan de-ngan
Minangkabau, dan di Barat berbatasan Samudera Hindia.
Luhat, disebut juga Banua, saat itu
masih merupakan satu kesatuan genealogi wilayah, atau terri-torial, berada dibawah
pemerintahan yang dilakukan menurut Adat Batak berlandaskan ke-kerabatan
Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga) sebagaimana tercantum dalam surat Tumbaga
Holing yang diajarkan leluhu. Setiap Luhat atau Banua, selain berdiri sendiri
juga sederajat satu sama lain. Pucuk pimpinan Luhat ialah Raja Panusunan Bulung
(RPB), awalnya datang dari keluarga-keluarga
Sisuan Haruaya (penanam pohon Beringin atau mereka yang mendirikan Luhat) di kawasan
itu. Dalam kebanyakan Luhat bernaung seumlah Huta atau Kampung, yang juga dikenal
dengan Bona Bulu (Pohon Bambu), karena pada zaan dahulu Huta memang diberi
berpagar rumpun bambu untuk melindungi Kampung dari musuh yang menyerang. Ada pula
Bona Bulu yang membawahi sejumlah
Kampung yang dinamakan Pagaran (Anak Kampung).
Huta selain tempat berdiam juga lahan tempat
mencari nafkah oleh adanya: sawah, ladang; perairan (sungai, danau, laut),
padang, semak/belukar, hutan, lembah, dan pegunungan mengita-ri, darimana sejumlah
kebutuhan hidup diperoleh. Pucuk pimpinan Huta ialah Raja Pamusuk, awalnya
datang dari keluarga-keluarga Sisuan Bulu (penanam Bambu atau yang
mendirikan Kampung) di tempat pemukiman.
Huta yang banyak penghuninya oleh kesuburan tanahnya, ka-ya lingkungan alamnya,
juga dipimpin Raja Pamusuk, meski dibantu oleh Kepala Ripe (Kepala Keluarga).
Raja dalam pengertian masyarakat Batak
bukanlah seorang penguasa sebagaimana yang dia-jarkan dalam buku sejarah Eropa
di zaman feodal yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah, akan tetapi adalah seorang
yang dihormati di kalangan yang dikenal dengan: Hatobangon ni Luhat atau Huta
(Tetua Luhat atau Huta), karena selain pandai juga memilikii banyak pengeta-huan
dan pengalaman hidup; tepatnya seorang bijak dari kalangan mereka (Primus
Interpares) datang dari keluarga para pendiri Luhat dan Huta. Ia juga disebut dalam Adat Batak: Haruaya
Parsilaungan (Beringin Tempat Bernaung), di Angkola dan Sipirok dikenal dengan:
Banir Parkolipkolipan, dan di Mandailing disebut Banir Parondingondingan.
Adapun sistim pemerintahan sentralistik
pertama kali diperkenalkan di oleh pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak dengan
menempatkan Asistent Resident Nederlads Indie (Asisten Residen Hindia Belanda)
di Natal, dilanjutkan seorang Resident Nederlands Indie (Residen Hindia
Belanda) di Sibolga. Pemerintah Belanda di Tanah Batak ketika itu adalah bagian
dari pe-merintah Hindia Belanda yang menguasai nusantara berkedudukan di
Batavia, pulau Jawa, yang dipimpin
seorang Gouverneur-Generaal Nederlads Indie (Gubernur-Jenderal Hindia Belanda).
Gubernur-Jenderal Belanda di Batavia saat itu ialah wakil Raja Belanda yang
berkedudukan di Den Haag, Eropa, untuk mengurus tanah jajahan Belanda seberang
lautan bernama Oost Nederlands Indie (ONI) atau Hindia Belanda Timur (HBT).
Raja Belanda masih mempunyai tanah jajahan
seberang lautan lain ketika itu bernama West Nederlands Indie (WNI) atau Hindia
Belanda Barat (HBB), dan yang terakhir dikenal dengan Suriname terdapat di
Amerika Selatan.
Awalnya, pemerintah Hindia Belanda
menamakan Afdeeling Batak Landen (subbagian Tanah Batak) untuk kawasan yang ada
disekitar danau Toba dengan ibukota Tarutung. Subbagian Tanah Batak yang lain
dinamakan Afdeeling Padang Sidempuan untuk Tapanuli Selatan, dan Afdeeling
Sibolga untuk Tapanuli Tengah. Penggabungan ketiga Afdeeling menjadi keresidenan
Tapanuli dalam lingkungan pemerintahan Hindia Belanda muncul dari hasil
penelitian Etnoloog (Belanda) atau Etnologist (Inggris), yakni ahli bangsa berikut
suku-sukunya asal Belanda yang menemukan kesatuan logat (bahasa) dan adat-istiadat
yang tampak jelas dalam masyarakat dalam ketiga afdeeling, baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun upacara adat. Lingkungan alam yang memudahkan perhubungan,
kekerabatan, perkawinan, dan agama, juga turut berperan terhadap hasil
penelitian ketika itu. Pemerintahan Hindia Belanda lalu mengelompokkan suku-suku
bangsa Batak yang mendiami daratan pulau Sumatera menurut logat dan adatnya
kedalam sejumah puak, yakni: Karo, Simalungun, Pakpak dan Dairi, Toba, Angkola,
dan Mandailing, yang dikenal luas sampai kini.
Pada tahun 1867 Tanah Batak masih
menjadi bagian dari Gouvernement van West Kust (Guber-nemen Sumatera Barat) yang
berkedudukan di Padang, Sumatera Barat, dengan ibukotanya Pa-dang Sidempuan.
Lalu pada tahun 1906, Tanah Batak memisahkan diri dan membentuk keresi-denan
Tapanuli dengan ibukotanya Sibolga. Keresidenan Tapanuli kemudian dibagi
kedalam dua Afdeeling oleh pemerintah Hindia Belanda, masing-masing: Afdeeling
Tapanuli Utara dibawah Asisten Residen
berkedudukan di Tarutung, dan Afdeeling Tapanuli Selatan dibawah Asisten
Residen berkedudukan di Padang Sidempuan. Afdeeling akhir ini oleh pemerintah
Hindia Belanda dipecah menjadi 8 (delapan) Onderafdeeling, yang setiap darinya
dipimpin seorang Controleur berkedudukan di: Batang Toru, Angkola, Sipirok,
Padang Bolak, Barumun, Manda-iling, Ulu dan Pakantan, dan Natal.
Dibawah Onderafdeeling pemerintah Hindia
Belanda memperkenalkan Distrik yang dipimpin oleh seorang Demang. Dibawa Distrik
diperkenalkannya Onderdistrik dipimpin Asisten De-mang. Dibawah asisten Demang
pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Kuria yang me-mimpin Hakuriaan
(Kekuriaan) untuk membawahi Huta berikut sawah ladang dan lingkungan la-innya.
Kata Kuria berasal dari Curia, istilah pemerintahan yang terdapat dalam Gereja
Katholik di Vatikan, Roma, Italia; lalu oleh pemerintah Hindia Belanda
diperkenalkan di Tanah Batak. Dari Curia lalu ditulis Kuria, melahirkan istilah
Hakuriaan dalam bahasa Batak. Dengan Hakuriaan pemerintah Hindia Belanda berusaha
menghilangkan kata Luhat atau Banua dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB) dari
peredaran, yang ketika itu tengah bersemayam dalam fikiran o-rang-orang Batak
yang menjadi kebanggaan daerah. Meski pemerintah Hindia Belanda tampak-nya
tidak berminat mencampuri urusan pemerintahan Huta yang dijalankan sesuai Adat
Batak setempat, akan tetapi dalam pelaksanaannya Belanda banyak mempengaruhi
siapa yang sela-yaknya dijadikan Raja Pamusuk untuk memimpin sebuah Huta.
Dengan semakin merosotnya anggaran pendapatan
pemerintah Hindia Belanda di Tapanuli Selatan, onderafdeeling yang delapan bilangannya
ketika itu, lalu disusutkan menjadi 4 (empat), masing-masing: Angkola dan
Sipirok, Mandailing Besar dan Kecil Ulu serta Pakantan, Natal dan Batang Natal,
dan Padang Lawas. Dan menjelang bertekuk lutut kepada Jepang, pemerintah Hindia Belanda lalu menyusutkan lagi keempat
Onderafdeeling menjadi 3 (tiga), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Padang
Lawas, Mandailing dan Natal.
Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar
Baginda Parbalohan dengan
istrinya Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar,
putri Ja Diatas Siregar, mendapat karunia tiga orang anak, semuanya laki-laki,
masing-masing:.
1. Abdul Hamid Harahap, lahir di Bunga Bondar….tahun 1876.
2. Kasim Harahap,
lahir di Bunga Bondar ….tahun 1881.
3. Rakhmat
Harahap, lahir di Bunga Bondar ….ahun 1883.
Setelah Inang
Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor berpulang ke Rakhmatullah, beliau digantikan
….…., gelar Ompu ni Kasibun.
Menunaikan Ibadah Haji ke Mekah di Madinah
Pada bulanana
Desember 1927 Amang Tobang Baginda Parbalohan melakukan peralanan untuk
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia. Adapun
rombo-ngan yang berangkat dari Tanah-air terdiri dari (lima) orang: Amang Tobang Baginda Parba-lohan,
Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Amang Tobang Kampung Harahap dari Bunga Bondar, Ompung
Rachmat Harahap dari Hanopan, dan Uda Nurdin Harahap dari Hanopan yang akan
belajar agama di Tanah Suci. Mereka berangkat dari Belawan naik kapal laut menuju
Jeddah di Saudi Arabia. Rombongan berhasil menunaikan ibadah haji selama di
Tanah Suci, lalu setelah melakukan tawaf wada bersiap kembali ke Tanah-air. Setelah
menyelesaikan ibadah haji Amang Tobang Sengel
Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan, memperoleh nama baru, masing-masing: Haji
Tuan Syekh Muhammad Yunus; Amang Tobang Kampung Harahap mendapat nama Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil;
Ompung Rachmat Harahap mendapat na-ma Haji Sutan Nabonggal; Uda Nurdin
Harahap mendapat nama: Haji Nurdin.
Yang disebut akhir ini harus tinggal di Mekah untuk belajar agama, sehingga rombongan
yang kembali ke Ta-nah-air tinggal 4 (empat) orang, yakni: Amang Tobang, Inang
Tobang, Amang Tobang Kam-pung Harahap, Ompung Rachmat Harahap.
Amang
Tobang Berpulang ke Rahmatullah
Selama di Mekah di
akhir perjalanan menunaikan ibadah haji, Amang Tobang masih menunjuk-kan
keadaan badan sehat dan melakukan tawaf wada mengitari mengitari Ka’bah.
Rombongan lalu naik kendaraan yang akan mengantarkan mereka menuju Jeddah,
dimana kapal yang akan membawa kembali ke Tanah-air berlabuh. Rombongan yang
awalnya terdiri dari 5 (lima) orang lalu kembali ke tanah-air 4 (empat) orang.
Dalam perjalanan kembali menuju Jeddah naik bus, dengan tidak memperlihatkan gangguan
kesehatan kecuali usia yang telah lanjut, Amang Tobang tiba-tiba merasa tidak
enak badan lalu lemah. Ia kemudian dipeluk oleh adiknya Amang Tobang Tuan Syekh Muhammad Jalil dan anaknya Opung Haji Abdullah
Umar. Dikabarkan beliau ber-pulang ke Rachmatullah dalam peralanan
menuju ke Jeddah, kemudian dimakamkan di kota pelabuhan Saudi Arabia itu tahun
1928.
Wafatnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci, menyebabkan
rombongan yang terdiri dari 4 (empat) orang kembali ke Tanah-air tinggal 3
(tiga) orang, yakni: Inang Tobang Ompu
ni Kasibun, Amangtobang Syeh Muhammad Jalil, dan Opung Sutan Nabonggal. Setiba rombongan di Bona Bulu mereka disambut dengan
isak tangis duka kehilangan yang dalam. Setibanya
di Bunga Bondar, di simpang empat Bunga Bondar, di rumah tempat kelahiran Amang
Tobang Baginda Parbalohan rombongan disambut deraian air mata ketika mengetahui
pimpinan rombongan tidak turut kembali karena telah berpulang ke Rachmatullah
di Jeddah. Kahanggi yang berdiam di rumah itu, kaum kerabat, kenalan, dan
handai tolan datang meramaikan suasana untuk menyampaiken rasa duka atas
kehilangan orang yang sangat mereka dicintai.
Mereka datang melayat bergantian untuk menyampaikan rasa
duka yang dalam kepada rom-bongan dan sanak keluarga terdekat yang ditinggalkan.
Maklum ketika itu belum ada sarana komunikasi yang dapat mengirim khabar duka
dengan cepat ke Hanopan dan Bunga Bondar; dan satusatunya jalan berita sampai
di kampung halaman ialah yang disampaikan rombongan haji yang kembali dari
Tanah Suci setelah menunaikan rukun Islam kelima. Para pelayat mengharap
ketabahan dan kesabaran rombongan dan sanak keluarga dekat yang terdapat di
Bunga Bundar, serta bertawakkal kepada Allah Suhanahu Wataala atas musibah yang
terjadi. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran ul Karim lalu dikumandangkan di
rumah duka di Bunga Bondar.
Dari Bunga
Bondar rombongan melanjutkan perjalanan ke Hanopan. Dari 3 (tiga) orang anggota
keluarga yang pulang dari Tanah Suci kini tinggal 2 (dua) orang, masing-masing: Inang Tobang Ompu ni Kasibun dan Opung Sutan
Nabonggal, karena Amang Tobang Tuan Syeh Muhammad Jalil berasal dari Bunga
Bondar. Namun Amang Tobang ini ikut juga ke Hanopan untuk ber-kumpul di Bagas
Godang Hanopan menyampikan khabar duka kepada keluarga dan sanak saudara. Di
Hanopan rombongan kembali disambut dengan deraian air mata saat
mengetahui bahwa Amang-tobang Baginda Parbalohan, Raja Pamusuk di kampung itu,
telah berpulang ke Rakh-matullah dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah
haji ke Tanah Suci.
Acara menurut Adat Batak lalu diselenggarakan sehubungan
dengan berpulangnya Raja Pamu-suk pertama di kampung Hanopan. Pembacaan
ayat-ayat suci dari Al-Quran pun dilangsungkan dengan tahlilan guna memanjatkan
doa untuk almarhum Amang Tobang Baginda Parbalohan dan kedua orang tuanya yang
telah berpulang ke Rakhmatullah di waktu silam, agar kepada se-mua yang
ditinggalkan diturunkanNya kesabaran dan ketabahan menghadapi kedukaan yang
sedang melanda ditinggal Amang Tobang Baginda Parbalohann karena beliau telah
dipanggil Sang Khalik untuk
menghadapNya. Amin.
Surat Wasiat
Sebelum Amang Tobang Baginda Parbalohan bersama rombongan meninggalkan Tanah Air menuju Tanah Suci, beliau membuat sebuah surat wasiat kepada ketiga orang putra yang disayanginya sebagaimana yang tertulis dalam surat partinggal dibawah ini:
SURAT PARTINGGAL
HAJI SENGEL HARAHAP
(1846-1928)
GELAR
BAGINDA PARBALOHAN
OMPU NI SUTOR
TUAN SYEKH MUHAMMAD YUNUS
(Ditulis
tanggal 3 Desember 1927 dalam aksara Batak, di Hanopan)
On ma suratku
partinggal di hamu amang. Ulang hamu marbadai anso manjadi pancarian munu. Taringot
tu saba julu madung ta bagi do i. Olat ni bondar tu balok ni si Gardok dohot
pan-jaean ni si Badul, i ma di si Kasim. Saba na hu baen i, muda mate au,
tinggal di si Rachmat tamba ni saba na dibaennia. Bagian ni si Badul ima saba
tonga sian julu Ja Saidi, sian jae si Kariaman dohot si Mamin. Nadung tahinta
do i najolo.
Taringot tu
bagas dohot parbagasan ulang hamu amang marsietongan. Na di pakarangan ni si
Kasim tinggal disia harambir dua batang, pining, bulu, parira, bakore. Di si
Rachmat harambir na di kobun ni Baginda Pangibulan, i ma sada na dilambung sopo
ni si Gardok.
Taringot tu bagas godang on amang madung huisinkon di si
Badul, umbahat do poko nia tusi. Nada tola dohononmunu partopan bagas i.
Harambir dua batang, unte sabatang, jambu sabatang, lancat sabatang, mangga dua
batang. Harambir na di sopo Nagodang i si Badul do nampuna i dohot kuéni i.
Amang jagit hamu
ma sipaingotkon:
Indalu batiti, indalu batonang,
indalu pasitik manuk butongan.
Amang, anggo
saba jae nada bagian munu be i, panjaean ni pahompu siangkaan, dohot bagian ni
boru pahompu dohot ibotongku; bagianna songon on:
Saba i lima ruang.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Dua
roeang sian joeloe on i ma bagian ni si Sutor dohot tobat dohot sopona lopus tu Bagin-
da Pangibulan.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Ruang
patoluhon i ma bagian ni si Bahat lopus tu bondar ni Ja Tahanan.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Ruang
paopatkon dibagi dua: Satonga di si Sento dohot si Sanne, na satonga nari di pahom-
mpu dadaboru sudena. Onom tangga di iboto hasurungan rimbaonna.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Ruang
parjae i ma bagian ni si Dimpu lopus tu bondar ni Ja Tahanan.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Amang, bagian ni boru on nada tola gadison ni halahi. Muda mate boru
nada adong panyun-
dutna nada taruli bagian be. Anso tongtong adong bagian ni
boru mamanjang, manjujung ha-
mu.
mu.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Amang natolu sinmanjujung:
Ulang hamu mangalaosi patik
nanibaen
ni
amamu, gusar Tuhan di hamu.
Taringot tu hapea i. Hapea na tobang on ma di si Sutor lalu
tu aek i. Hapea naposo on dibagi dua: satonga sian jae di si Bahat, sian julu
di si Dimpu.
Amang, tai anggo laing mangolu dope inangmu, nada tola buatonmunu
saba jae sudena dohot hapea, anggo diboto ia aturan maranak di hamu.
Antong horasma
di anak, horas di parumaen, horas di pahompu, sude dadaboru dohot halaklahi.
Botima.
Amang, taringot tu pahompu halaklahi i sudena ima lombu na
di Padang Bolak na salapan bolas i. Ima bagi hamu di halahi, dosdos bagi hamu.
Bulu soma parjulu di si Bahat. Bulu surat di si Dimpu. Bulu poring, bulu soma
na di kobun i di si Sutor.
Tobat na di julu ni hapea natobang i dohot pakaranganna
madung hu lehen di si Peli sudena.
Madabu sada,
madabu dua, ilu sipareon ni amamu.
Botima,
Horas ma di
pomparanku sudena!
BAGINDA
PARBALOHAN
3-12-‘27
Keterangan:
1. Surat Partinggal Amang Tobang ini ditulis di Hanopan
dalam Aksara Batak ditemukan
dalam arsip
Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, cucu tertua, putra sulung dari
Sutan Hanopan.
2. Alih aksara dari Batak ke Latin dalam Bahasa Batak,
dikerjakan cucu Baginda Parbalo-
han bernama
H.M.Diri Harahap S.H., putra ke-8 Sutan Hanopan pada tanggal 26 Okto-
ber 1974, di
kediamannya di jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta.
3. Sento Harahap adalah adik perempuan Baginda Parbalohan
yang menikah dengan Ja Kola
dari Batu Horpak.
4. Sanne Harahap juga adik perempuan Baginda Parbalohan
yang menikah dengan Baginda
Hinalongan dari
Bunga Bondar.
5. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan, Ompu ni Kaja,
ialah adik kandung Baginda Par-
balohan ke-14
yang tinggal di Hanopan.
6. Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim, Ompu
ni Marasali ialah adik
kandung Baginda
Parbalohan ke-15 yang juga tinggal di Hanopan.
7. Badul ialah nama kecil Abdul Hamid Harahap, Ompu ni
Amir halak lahi, Tuan Datu Singar,
gelar Sutan Hanopan,
anak tertua, ialah putera sulung Baginda Parbalohan yang berdiam
di Hanopan.
8. Kasim ialah nama kecil Mangaraja Elias Hamonangan, Ompu
ni Paulina halak lahi, gelar
Tongku Mangaraja
Elias Hamonangan, ialah putera kedua Baginda Parbalohan yang juga
berdiam di
Hanopan.
9. Rachmat ialah nama kecil Haji Abdullah Umar, Ompu ni
Mina halak lahi, gelar Sutan Na-
bonggal, ialah
putera ketiga, anak bungsu dari Baginda Parbalohan yang menenemaninya
menunaikan
Ibadah Haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah pada tanggal 3 Desember
1927 juga berdiam
di Hanopan.
10. Sutor Harahap, gelar
Baginda Pandapotan ialah putera tertua Sutan Hanopan, cucu sulung
Baginda Parbalohan dari putera yang sulung.
11. Dimpu Harahap, gelar
Baginda Parbalohan (Naposo) ialah anak laki-laki tertua dari Manga-
raja Elias Hamonangan, cucu tertua
Baginda Parbalohan dari puteranya yang kedua.
12. Bahat Harahap, ialah putera
sulung Sutan Nabonggal, cucu tertua Baginda Parbalohan dari
putera ketiganya.
13. Pelinuruddin Harahap, Haji
Muhammad Nurdin, putera Sutan Hanopan yang kelima, cucu Ba-
ginda Parbalohan yang menemani melaksanakan
Ibadah Hadji ke Tanah Suci, sekaligus bela-
jar agama Islam disana.
14. Mamin, warga kampung
Hanopan.
15. Ja Saidi, warga kampung
Hanopan.
16. Kariaman, warga kampung
Hanopan.
17. Ja Tahanan, warga kampung
Hanopan.
Alih bahasa
dari Batak ke Latin oleh
cucunya:
H. M. Diri Harahap S.H.,
gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan.
Lalu, pada tanggal
19 Mei 2009 diberi k
rangan oleh cicitnya: H.M.Rusli Harahap,
gelar Sutan Hamonangan.
.
Pasidung
Ari Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan
Karena Amang Tobang Baginda
Parbalohan bepulang ke Rakmatullah dalam perjalanan kembali dari Mekah menuju Jeddah, maka beliau dimakamkan di kota akhir ini.
Meskipun demikian di dalam Bale Julu di Hanopan, dibuatkan juga makamnya untuk mengenang
orang yang telah berjasa mendirikan kampung Marga Harahap di Luhat Sipirok,
dengan menuliskan keterangan bahwa beliau di makamkan di Jeddah pada tahun
1928. Terniat dalam hati untuk membawa pu-lang “Saring-saringan” beliau yang begitu
dicintai, akan tetapi karena tidak lagi dapat dilakukan maka dilakukanlah sebagaimana
apa yang terlihat di Bale Jae ini. Amang Tobang Baginda Par-balohan pernah “berwasiat”
kepada pomparannya agar membawa pulang ke Hanopan saring-saringan kaum kerabat
yang berulang ke Rachmatulh dari perantauan dimanapun berada.
Melaksanakan Pasidung Ari Amang Tobang
1. Menyampaikan
undangan Pasidung Ari almarhum Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan kepada:
Dalihan na Tolu, Hatobangon, dan Harajaon, mulai dari Hanopan, Bunga Bondar, Pa-rau
Sorat, hingga Panggulangan.
2. Para penyelenggara Acara
Pasidung Ari.
a. Raja Panusunan Bulung
b. Paralok-alok na Pande
c. Suhut Sihabolonan
d. Kahanggi
e. Hombar Suhut/Pareban
f. Anak Boru
g. Pisang Raut/Sibuat Bere
h. Mora
i. Hatobangon ni Huta Hanopan (Namora Natoras):
j. Raja ni Huta Hanopan
k. Raja-raja ni Huta Torbing Balok
l. Raja-raja Luat ni Desa na Walu.
3. Pemasangan bendera-bendera
adat di depan rumah duka di Bagas Godang Hanopan.
4. Mengeluakan Perbendaharaan Adat:
a. Bulang
b. Koper berisi pakaian peninggalan almarhum.
c. Abit Godang (Abit Batak, atau Ulos)
d. Tikar Lapis (3, 5, atau 7 lapis)
e. Burangir Nahombang dan Burangir Panyurduan.
f. Payung Rarangan
g. Bendera
h.
Tombak, Podang
i. Tawak-tawak
j. Tanduk Kerbau
5. Acara Adat Pasidung Ari
I. Pemakaman Amang Tobang Sengel Harahap, gelar
Baginda Parbalihan, telah berlang-
sung di Jeddah Saudi Arabia tahun 1928.
II. Upacara Adat
Pasidung Ari.
a. Menyembelih hewan Nabontar (Kerbau) di halaman Bagas Godang Hanopan.
b. Menyiapkan ruangan.
c. Dalihan Na Tolu, Hatobangon, Harajaon, dan masyarakat mengambil
tempat dalam ru-
ang tengah Bagas Godang Hanopan.
Bagian Pertama
(Sidang para Raja tanpa
kaum ibu)
d. Sidang Adat Haruaya Mardomu Bulung dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB).
e. Orang Kaya pembawa acara minta anakboru manyurduhon burangir (panyurduan dan
nahombang) dan meletakkan
keduanya dihadapan Raja Panusunan Bulung.
f. Orang Kaya minta kepada Suhut Sihabolonan menyampaikan isi hatinya.
Adapun
pokok pembicaraan ialah:
- melaporkan kepada Raja bahwa: Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan
Raja Pamusuk di Hanopan telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah.
- memohon kepada para Raja untuk menyampaikan khabar duka pada khalayak ramai.
- bahwa
keluarga almarhum telah menyelesaikan semua hutang adat (mandali), dan
diperkenankan menyelenggarakan
horja siriaon.
- memohon kepada para Raja untuk
menyaksikan Suhut Sihabolonan menghadap
Moranya agar secara resmi
menyampaikan berita duka ini.
g. Setelah Suhut Sihabolonan berbicara, kemudia disusul Pareban, Anakbpru,
Pisang, Raut,
Mora, Hatobangon, Harajaon, sampai
dengan Raja-raja torbing balok.
h. Setelah seluruhnya
berbicara, Raja Panusunan Bulung memutuskan untuk mengabulkan
seluruh permohonan Suhut
Sihabolonan.
Pembacaan doa, lalu sidang adat bagian pertama
selesai.
i. Pembagian daging Nabontar terjinjing baiyon loging dibagikan kepada
seluruh yang hadir
para peserta sidang pasidung ari.
Inilah cara Adat Batak untuk menyebarluaskan
khabar duka di Bona Bulu kepada
masyarakat, bahwa
Amang Tobang: Sengel
Harahap, gelar Baginda Parbalohan,
telah berpulang ke Rachmaullah dari
tengah para hadirin semua.
Adapun cara pembagian nabontar yang masih berlaku hingga kini di Bona Bulu ialah
sebagai berikut:
1. Suhut dan Kahanggi : ate-ate dan pusu-pusu.
(maksudnya agar sapangkilalaan, artinya sependeritaan)
2. Anakboru : juhut jantung, udut rungkung
(artinya: yang mempunyai kekuatan untuk manjuljulkon)
3. Pisang Raut : juhut holi-holi dan kaki depan.
(maknanya: agar cekatan dan rajin bekerja)
4. Raja-raja dan Hatobangon : juhut na marbobak, sude gorar-goraran.
(maknanya: agar menjadi pangidoan na bisuk dohot uhum)
5. Raja Panusunan Bulung : lancinok sude gorar-goraran
(maknanya: tempat memperoleh parsilaungan, paronding-ondingan)
6. Mora tulan rincan, gorar-goraran
(maknanya: tempat memomohon sahala dohot bisuk).
Ketika menyerahkan bagian Mora, daging diletakkan diatas anduri ber-
alaskan
daun pisang, lalu ditutup daun yang sama dari atas kemudian
diatas
semuanya ditempatkan abit Batak.
Bagian Kedua
(Sidang Dalihan
Natolu yang dihadiri kaum ibu)
Raja Panusunan Bulung, Raja Pamusuk, Harajaon Torbing
Balok, dan Hatobangon bertindak se-bagai saksi terhadap jalan persidangan.
a. Menyerahkan
Hasaya ni Karejo dilakukan oleh Suhut Sihabolonan:
1. Kepada Mora: tulan rincan, ate-ate, mata,
dan pinggol diletakkan diatas anduri beralaskan
daun
pisang.
Mora menebus dengan kembalian diatas
Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.
2. Kepada Anakboru: udut rungkung, juhut jantung diletakkan diatas anduri
beralaskan daun
pisang.
Anakboru menebus dengan kembalian
diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.
3. Suhut Sihabolonan dan kahanggi menyerahkan pemberian mereka kepada Mora.
b. Menyiapkan
ruangan.
Mora duduk di juluan berseberangan dengan
Suhut, Kahanggi, Anakboru, Pisang Raut,
mengambil tempat duduk saling
berhadapan. Hatobangon dan para Raja duduk disebe-
lah
kanan dan kiri Mora untuk menyaksikan.
c. Anakboru
manyurduhon Burangir.
d. Suhutsihabolonan mengutarakan isi hatinya
kepada Mora, tentang:
- bahwa Raja Pamusuk dari Bagas Godang Hanopan telah berpulang ke Rakhma-
matullah
- agar mora tidak lagi mengharapkan kedatangannya di masa depan memperlihatkan
hormat kepada mora sebagaimana yang ditunjukkannya selama ini.
e. Setelah
Suhutsihabolonan berbicara, disusul Pareban, Anakboru, Pisang Raut.
f. Pakaian
peninggalan Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan dalam ko-
por ditunjukkan kepada mora sebagai
“pangitean ni namangolu”, dengan harapan agar mora
tidak
lagi menantikan kedatangan anakboru sebagaimana yang dikerjakannya selama ini.
g. Mora kemudian menjawab Suhut Sihabolonan dan
menerima resmi menerima kopor pening-
galan almarhum Amang
Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan beserta isinya.
Mora meminta
agar isi kopor peninggalan almarhum dibagikan kepada seluruh kahanggi.
Acara Adat Pasidung Amang Tobang Sengel
Harahap, gelar Baginda Parbalohan selesai.
Pendidikan
dan Pekerjaan Ketiga Putera Baginda Parbalohan
1. Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, juga bernama
Tuan Datu
Singar. lahir di Bunga Bondar, menempuh pendidikan Sekolah Gouvernement
di
Sipirok. Pekerjaannya menjadi Raja Pamusuk di Hanopan setelah ayahnya
Baginda
Parbalohan berpulang ke Rakhmatullah di Jeddah pada tahun 1928.
2. Kasim Harahap (1881-1944), Tongku Mangaraja Elias Hamonangan lahir di
Bunga
Bondar. menempuh pendidikan Sekolah Gouvenement di Sipirok. Pekerjaan menja-
di Raja Pamusuk di Hanopan setelah Sutan Hanopan wafat tahun 1939.
3. Rakhmat Harahap
(1883-1962), gelar Sutan Nabonggal lahir di Bunga Bondar.
Ompung Sutan
Nabonggal menyertai ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah
dan madinah tahun 1927
memperoleh gelar Haji Abdullah Umar.
Amang Tobang Menikahkan Ketiga
Putera bersama para cucu:
1. Ompung Sutan Hanopan menikah dengan Dorima Siregar, gelar Ompu ni
Amir
Boru Regar dari Bunga
Bondar, putri Sutan Bungabondar. Adapun keturunannya:
1. Sutor, lahir 15 Juni
1896 di Bunga Bondar.
2. Maujalo, lahir 10 September 1901 di Bunga Bondar.
3. Siti Angur (pr), lahir …. 1905
di Hanopan.
4. Dumasari (pr), lahir …. 1908 di Hanopan.
5. Pelinuruddin, lahir …..1911 di Hanopan.
6. Aminah (pr), lahir …..1912 di Hanopan.
7. Sorimuda (Hisar), lahir ….. 1913 di Hanopan.
8. Diri (Din), lahir ….. 1915 di Hanopan.
9. Muhammad, lahir …..1917 di Hanopan.
10. Khairani (Erjep, pr), lahir ……1920, di Hanopan.
11. Marajali, lahir……1922 di Hanopan.
12. Pamusuk, lahir …..1925 di Hanopan.
2. Ompung Tongku
Mangaraja Elias Hamonangan menikah dengan Petronella Siregar,
gelar Ompu
ni Paulina, juga Naduma Bulung Pangondian, boru Regar, putri ke-4
Ompu Raja Oloan Siregar dari Bunga Bondar,
Adapun keturunannya:
1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir…. di Hanopan.
2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir…..di Hanopan.
3. Dimpu, lahir….. di Hanopan.
4. Menmen (pr), lahir di Hanopan.
5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir di Hanopan.
6. Partaonan (Parta), lahir di Hanopan.
7. Hakim, lahir di Hanopan.
8. Poma, lahir di Hanopan.
9. Krisna
Murti (Murti, pr), lahir di Hanopan.
10. Bagon, lahir…..1922 di Hanopan.
11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.
12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.
13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.
3. Ompung Rakhmat
Harahap, gelar Sutan Nabonggal, juga Haji Abdullah Umar, de-
ngan istri
Gorga Siregar, gelar Ompu ni Mina, boru Regar dari Bondar Sampulu, i-
boto Sutan Kalisati
Siregar. Adapun keturunannya:
1. Bahat, lahir…….di
Hanopan.
2. Utir (pr), lahir di Hanopan.
3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.
4.
Sahada (pr), lahir di Hanopan.
5. Malige (Lige, pr), lahir di Hanopan.
6. Zainuddin (Sai), lahir di Hanopan.
7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir di Hanopan.
Semua cucu Amang Tobang Baginda
Parbalohan berjumlah 32 orang.
--------selesai-------
Disusun oleh:
H.M.Rusli Harahap,
gelar Sutan Hamonangan
Jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas
Jakarta 13210. Tel: 472-2243.

