Monday, 2 January 2012




PERJALANAN HIDUP AMANG TOBANG 

SENGEL HARAHAP

gelar

BAGINDA PARBALOHAN

Sekapur Sirih



Dengan terlebih dahulu mengucapkan Syukur Alhamdulillah kepada Allah Subhanahu Wataala, dan bersyukur padaNya, menyampaikan salam dan selawat kepada junjungan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, pembuatan blog Amang Tobang Baginda Parbalohan ini bertujuan mengenang kembali hijrah yang  dilakukan marga Harahap asal Hanopan (Sidangkal) dari Bunga Bondar ke Hanopan (Sipirok)  yang beliau lakukan bersama adik-adik, kerabat, dan lainnya diwaktu yang silam. Marga Harahap dari Hanopan (Sidangkal) sebelumnya terpaksa meninggalkan kampung halaman di Angkola karena munculnya Perang Paderi (1825-1838) yang menyerang dari Sumatera Barat.lalu merambah ke Angkola. Meski telah masuk ke zaman Hindia Belanda, setelah zaman kerajaan-kerajaan Batak yang merdeka berlalu, namun Amang Tobang banyak menerima warisan pengetahuan dan pengalaman orang tua dan kakek yang mengungsi dari Angkola ke Lobu Sinapang di Padang Bolak, dan orang tua yang kemudian pindah ke Bunga Bondar, dimana beliau lahir dan dibesarkan. Amang Tobang sempat mendapat pendidikan Barat mengkuti sekolah Gouvernement di Sipirok, lalu menjadi Raja Pamusuk pertama di Hanopan, karena berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru.
Banyak didikan disampaikan  Amang Tobang kepada ketiga putranya, terlebih beliau seorang Raja Pamusuk di kampung marga Harahap yang baru itu. Sejak masih tinggal di kampung moranya, Amang Tobang telah menjadi seorang penggemar berat Adat Angkola. Amang Tobang mengajarkan: ”Tua ni na mangholongi, ni haholongi”. Amang Tobang juga memperlihatkan apa yang dinamakan: “hormat mar mora”, terhadap marga Siregar dari Bunga Bondar yang menda-tangkan ina (ibu) kepada marga Harahap di Hanopan; ”manat mar kahanggi” mulai: Bunga Bondar, Hanopan, hingga Panggulangan; untuk memelihara persaudaraan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga), dengan: “elek mar anak boru” ke Simarpinggan dan lainnya. Adapun kakek Amang Tobang ialah: Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, ketika itu dikhabarkan berdiam di Hanopan Sidangkal (kini masuk kecamatan Padang Sidempuan Barat) tidak jauh dari Padang Sidempuan, sedangkan ayahnya Ja Alaan, gelar Tongku Mangaraja Hanopan. Mereka terpaksa mengungsi meninggalkan Angkola ketika Perang Paderi merambah daerah itu.
Meski pemerintah Hindia Belanda, tampaknya tidak mencampuri urusan pemerintahan kam-pung yang semuanya masih berjalan menurut Adat Batak demi kesejahteraan dan kerukunan hi-dup warga masyarakat, terkecuali keharusan membayar belasting (pajak) dan bekerja rodi, akan tetapi Belanda suka juga mencampuri urusan yang berhubungan dengan siapa yang sebaiknya menjadi Kampong Hoofd agar hubungan dengan hakuriaan bentukan Belanda dengan kampung-kampung dapat berjalan lebih harmonis. Selama menjadi Raja Pamusuk, Amang Tobang berkantor di rumahnya, Bagas Godang Hanopan, meskipun demikian beliau tidak sempat meninggalkan foto kenangan tentang dirinya dengan Inang Tobang untuk disampaikan kepada generasi  penerus yang ingin mengetahui keduanya.
Pada bulan Desember tahun 1927, Amang Tobang Baginda Parbalohan menyiapkan rombongan yang akan berangkat ke Tanah Suci terdiri dari: beliau, istrinya, adiknya, anaknya, dan cucunya. Mereka ingin melaksanakan rukun Islam ke-5 dengan menunaikan ibadah Haji di Mekah dan Madinah, Saudi Arabi, dengan naik kapal laut dari Medan. Akan tetapi dalam perjalanan pulang ke Tanah-Air, beliau berpulang ke Rachmatullh di Jeddah lalu dimakramkan di kota pelabuhan itu. Amang Tobang telah berhasil membesarkan dan membimbing 3 (tiga) orang anak menjadi manusia dewasa, berpendidikan Sekolah Melayu, dan berkeluarga, dan menyaksikan kehadiran  para cucu yang tumbuh dan berkembang.
Akhirulkalam, tak ada gading yang tidak retak, maka apabila dalam perjalanan hidup Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang silam ada prilaku, perbuatan, dan hal-hal lain yang kurang berkenan di hati para kahanggi, anakboru, dan mora, begitu pula lainnya, sudilah kiranya semuanya memaafkan kekurangan mereka. Dalam lubuk hati kami pomparan (keturu-nan) yang paling dalam bersemayam rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wataala yang telah menganuge-rahkan Amang Tobang Baginda Parbalohan dan Inang Tobang sebagaimana apa adanya.

Zaman Hindia Belanda

Pendahuluan

Belanda masuk ke Tanah Batak dari Sumatera Barat tahun 1833 masih dalam suasana Perang Paderi (1825-1838) yang berkecamuk. Karena itu dapat dimengerti serdadu-serdadu Belanda  mendapat sedikit perlawanan dari Raja-raja setempat saat masuk dari Sumatera Barat ke Tapanuli lewat Rao di Mandailing. Belanda kemudian membangun benteng Fort Elout di Panyabungan, untuk menyatakan keberadaannya di Tanah Batak. Setahun kemudian Belanda membentuk pe-merintahan sipil di Tanah Batak yang dipimpin seorang Asisten Residen berkedudukan di Natal.
Dengan demikian penjajahan Belanda atas Tanah Batak telah dimulai, dan zaman pemerintahan Hindia Belanda hadir di Tanah Batak. Memasuki zaman Hindia Belanda, Padang Sidempuan menjadi kota besar di Angkola, menjadi pusat pemerintah Hindia Belanda mengatur Afdeeling Tapanuli Selatan, sekaligus menjadi ibukota afdeeling itu.
Pemerintah Hindia Belanda berakhir dengan kedatangan serdadu-serdadu Fascist Jepang yang menrobos masuk ke nusantara di awal Perang Dunia ke-II, lalu menghalau pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Sibolga keluar meninggalkan Tanah Batak, dan memaksa Ge-neraal-Majoor Overtrakker berkedudukan di Sumatera menyerah tidak bersyarat tanggal 28 Maret 1942 kepada Jepang tidak jauh dari Kotacane, menyebabkan penjajahan Belanda atas Tanah Batak berjalan 109 tahun lamanya.

Desa Asal

Bunga Bondar adalah sebuah desa yang berada di jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan Soborongborong di Kabupaten Tapanuli Utara, lewat Sipa-gimbar, Pangaribuan, dan Sipahutar. Jalan ini awalnya adalah sebuah lintasan rimba yang dilalui warga yang bepergian antar kampung, lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diubah menjadi ja-lan-raya yang menghubungkan Onderafdeeling (sub-bagian) Tapanuli Selatan dengan Onder-afdeeling Tapanuli Utara, dikenal dengan nama: “jalan pahulu”. Adapun jalan lain, yang juga menghubungkan kedua Onderafdeeling, ialah yang menghubungkan  Sipirok dengan Tarutung lewat Sarulla dan Onan Hasang dikenal dengan: “jalan pahae”. Kedua jalan ini lalu berubah menjadi jalan-raya sekaligus uratnadi ekonomi kedua onderafdeeling dikemukakan, yakni daerah Angkola yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan dan daerah Toba yang terdapat di Kabu-paten Tapanuli Utara.

Peta Kabupaten Tapanuli Selatan

Baginda Parbalohan 
Dewasa ini Bunga Bondar, darimana Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan berasal terletak di Kecamatan Arse, Kabupaten Sipirok. Amang Tobang adalah anak kedua dari enambelas orang bersaudara datang dari dua orang ibu, tetapi putra sulung, bernama kecil Sengel Harahap lahir di Bunga Bondar tanggal… bulan… tahun 1846. Ayahnya: Alaan Harahap, gelar Tongku Mangaraja Hanopan dan ibunya Bolat Siregar, gelar Naduma Parlindungan, putri Ja Mampe, cucu Sutan Diapari dari Bunga Bondar. Amang Tobang kemudian membawa hijrah ke-dua orang tuanya pindah ke Hanopan dari Bunga Bondar, dan tinggal bersamanya di Hanopan  sampai akhir hayat mereka. Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parba-lohan adalah seorang marga Harahap awalnya tinggal di Bunga Bondar, lalu setelah memperoleh kesempatan mamungka (mendirikan) kampung yang baru di luhat Sipirok dari Raja Pamusuk yang memerintah di Bunga Bondar, berhasil mamungka kampung marga Harahap yang baru di Luhat Sipirok yang dinamakan Hanopan, dan menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung itu. Nama Hanopan diambil dari kampung bernama sama dekat Sidangkal di jalan-raya menuju ke Simarpinggan dari Padang Sidempuan, darimana Demar Harahap, gelar Ja Manogihon, kakek A-mang Tobang Baginda Parbalohan, berasal sebelum Perang Padri berkecamuk masuk ke Angkola.
Gambar ini adalah foto keponakan Baginda Parbalohan
yang mirip dengan beliau.
Amang Tobang Baginda Parbalohan dibesarkan dalam lingkungan keluarga berpengaruh di Bunga Bondar dimana beliau lahir dan dibesarkan. Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Adat Angkola yang masih kental dan menjadikannya seorang penggemar Adat Batak tempatnya berdiam. Akumulasi pengetahuan Adat Batak Angkola didapat dari menghadiri beragam perhelatan di Bunga Bondar dan kampung lain berdekatan, menyadarkan dirinya akan perlu adanya sebuah kampung marga Harahap yang baru. Selain dari itu ia juga menyadari bahwa Bunga Bondar pun telah padat pula penduduknya. Maka ketika Raja Pamusuk dari Bunga Bondar penguasa Luhat Sipirok memberi kesempatan kepada warganya untuk mamungka kampung yang baru, anakboru marga Siregar di kampung itu juga diberi kesempatan yang sama. Itulah sebab-nya mengapa Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan, anak sulung Alaan Harahap bersama adik-adik dan kerabat lainnya lalu meninggalkan Bunga Bondar dalam satu rombongan masuk kedalam rimba membawa perbekalan untuk mendirikan kampung yang baru. Dengan demikian akan terbuka tempat kediaman yang baru dengan lahan tempat nencari nafkah yang dapat diwa-riskan kepada anak cucu yang datang kemudian.  
Pada pagi hari mereka telah meninggalkan Bunga Bondar menelusuri jalan rimba yang biasa dilalui penduduk bepergian antar kampung di Luhat Sipirok. Mereka menerobos hutan lebat untuk tiba di kaki Dolok Nanggarjati, dimana kampung yang akan dipungka diperkirakan berada, tidak jauh dari Huta Padang yang beru ada. Di Bunga Bondar Sutan Ulubalang masih Raja Pamusuk yang memerintah, setelah wafat lalu digantikan adik kandungnya Sutan Doli. Raja Pamusuk Bunga Bondar saat itu tengah menghadapi serbuan serdadu-serdadu Belanda yang datang dari Sipirok, setelah berhasil masuk ke Tanah Batak dari Sumatera Barat lewat Man-dailing dalam Perang Paderi tanpa mendapat perlawanan berarti.
Belanda perlu menaklukkan kerajaan Bunga Bondar ketika itu, oleh letaknya yang strategis di jalan-raya yang menghubungkan Angkola di Tengah dengan Toba di Utara. Setelah berperang 4 tahun lamanya, maka pada tahun 1851 Belanda berhasil mematahkan perlawanan Sutan Doli yang bertakhta, lalu menyingkirkan para penantangnya di kampung marga Siregar itu ke pem-buangan di Jawa. Lebih dari satu abad kemudian, dalam agresi militer Belanda ke-II tahun 1945 serdadu-serdadu Belanda datang lagi ke Bunga Bondar untuk menduduki kampung marga Sire-gar itu untuk kedua kalinya, akan tetapi kampung itu telah ditinggalkan warganya untuk mela-kukan perang gerilya. 
Setelah berhari berjalan kaki, sampailah rombongan ke sebuah tempat yang bernama: “Hayuara Bodil”, tidak jauh dari Arse Jae yang sekarang. Mereka mencoba menanam benih yang dibawa: padi, jagung, dan lainnya, dan ingin mengetahui apakah tempat ditemukan baik untuk tempat mendirikan kampung untuk bermukim. Kawasan yang mereka jelajahi saat itu tergolong rimba yang dikatakan orang berhantu, juga tempat harimau Sumatera mencari mangsa. Akan tetapi kali ini usaha mereka gagal. Rombongan lalu pindah mencari tempat yang lain, dan setelah berjalan ke Selatan tibalah mereka di suatu tempat yang bernama: Padang Suluk, tidak jauh dari Huta Padang. Di tempat akhir ini upaya mereka menanam benih dibawa juga tidak berhasil. Kemudian rombongan berpindah lagi, kini agak ketengah untuk menemukan lokasi berikutnya, dan ternyata di tempat ketiga benih-benih ditanam ternyata tumbuh subur.
Rombongan lalu memutuskan mendirikan kampung di tempat akhir ini, dan menamakannya: “Hanopan” di Luhat Sipirok, untuk mengenang Hanopan dekat Sidangkal yang ditinggalkan kakek dan ayah Amang Tobang Baginda Parbalohan silam, ketika Perang Paderi berkecamuk dan merambah ke Angkola. Lebih dari dua tahun lamanya rombongan mengembara meninggal-kan Bunga Bondar sebelum kembali untuk mengabarkan keberhasilan. Bagi pomparan Tongku Mangaraja Hanopan yang datang kemudian, Hanopan dekat Sidangkal adalah “kampung asal” marga Harahap yang dapat dinamakan: “Hanopan-1”, sedangkan Hanopan di luhat Sipirok ialah kampung yang dipungka marga Harahap asal dari Hanopan-1 yang dinamakan: “Hanopan-2”.
Kedua Hanopan telah menjadi tempat yang berharga bagi mereka. Adapun jalan rimba yang di-lalui rombongan silam, telah diubah pemerintah Hindia Belanda menjadi bagian dari jalan-raya yang menghubungkan Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan Siborongborong di Kabu-paten Tapanuli Utara, lewat: Bunga Bondar, Hanopan-2, Simangambat, Sipagimbar, Pangaribu-an, dan Sipahutar. Pemerintah Hindia Belanda telah mengerahkan penduduk bekerja rodi (kerja paksa) mengubah jalan rimba yang dilalui penduduk menjadi jalan-raya yang dilewati kendaraan bermotor. Setelah berbagai persyaratan Adat Batak Angkola dipenuhi, maka pada tanggal 23 Desember 1885, Hanopan-2 yang dipungka marga Harahap dari Bunga Bondar di Luhat Sipirok  diresmikan jadi “Huta”, sekaligus Bona Bulu marga Harahap pendirinya. Pada peresmian Hano-pan-2, Amang Tobang Baginda Parbalohan diangkat menjadi Raja Pamusuk pertama di kampung marga Harahap dalam usia 39 tahun. Amang Tobang berpendidikan: Sekolah Gouvernement di Sipirok silam, menjadi Raja Pamusuk Hanopan sesuai Adat Batak yang berlaku di Angkola sejak tahun 1885, dan memimpin kampung selama 43 tahun (1885-1928).
Memasuki zaman kemerdekaan, pemerintah NRI Keresidenan Tapanuli yang beribukota Tarutung ketika itu mengeluarkan ketetapan Residen Tapanuli ber-No.: 274 tertanggal 14 Maret 1946, dan No: 1/D.P.T. tertanggal 11 Januari 1947 ditandatangani Dr. Ferdinand Lumban To-bing. Adapun isi keputusan Residen Tapanuli saat itu ialah: Para Raja yang menjabat di peme-rintahan, maupun mereka yang berhubungan dengan kegiatan publik di seluruh Tanah Batak, a-papun jabatan diemban, diberhentikan dengan hormat dengan ucapan terimakasih. Para penye-lenggara pemerintah yang kemudian menggantikan akan dipilih secara demokratis. Dengan de-mikian istilah Kampong Hoofd (Kepala Kampung) warisan Hindia Belanda sebelum Perang Du-nia ke-II silam diambil alih pemerintah NRI di Tanah Batak, dan digunakan memasuki zaman kemerdekaan hingga saat ini. Catatan tanggal peresmian Hanopan menjadi “Huta” masih dapat diemukan pada tiang pe-nyangga Sopo Godang Hanopan.


Keterangan Kampong Hoofd

Setelah Arse, Huta Padang, dan Hanopa dipungka, bermunculan kampung-kampung lain dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Aek-Silo, seperti: Napompar, Roncitan, Huta Tonga, Simatorkis, Bahap, Purba Tua (Pagaran Tulason), Muara Tolang dan Tapus. Hanopan dibawah kepimpinan Baginda Parbalohan tidak hanya terkenal dalam DAS Aeksilo, tetapi juga hingga keluar luhat Sipirok hingga ke Mandailing. Baginda Parbalohan mendapat karunia tiga orang anak, semua-nya laki-laki, yakni: Abdoel Hamid Harahap, gelar Soetan Hanopan, juga bernama: Tuan Datu Singar; Kasim Harahap, gelar Mangaraja Elias Hamonangan; dan Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal. Dengan berpulangnya Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor asal Bunga Bondar, ia lalu digantikan Inang Tobang Ompu ni Kasibun. 

Marga Harahap
Keluarga-keluarga yang bermarga Harahap dimanapun berada, baik Tapanuli maupun tanah perantauan sesungguhnya seasal, artinya mereka datang dari nenek moyang pemersatu yang sama oleh kesamaan  marga. Akan tetapi karena berbilang abad waktu telah berlalu, sang pe-mersatu yang menjadi asal marga begitu juga keterangan yang ditinggalkannya tidak dapat dite-mukan lagi, maka tinggal nama marga semata. Lalu tampil marga-marga Harahap berasal dari berbagai Huta (Kampung) dan Luhat (Daerah), dan tempat lainnya. Sementara itu ada keluarga-keluarga marga Harahap menyatakan diri sebagai Sipungka Huta dan tempat-tempat mereka ber-diam  di Tanah Batak, kemudian terdapa juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak me-nyatakan diri mereka sebagai pendiri kampung, namun memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Harahap tertentu yang terdapat di Bona Bulu.
Kini masih banyak dijumpai keluarga-keluarga marga Harahap yang tahu benar kampung-ka-mpung yang dipungka leluhur di Tapanuli silam dari peninggalan diwarikan, antara lain: Bagas Godang (Rumah Adat), sawah, ladang, kahanggi, catatan keluarga, serta para saksi. Di lain fihak terdapat juga keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak lagi mengetahui kampung asal di Tanah Batak silam, lalu berusaha menemukan asal-usul mereka lewat hubungan kekerabatan de-ngan keluarga-keluarga bermarga Harahap Sipungka Huta sejauh yang dapat ditelusuri lewat hubungan kekerabatan yang masih diketahui tersimpan dalam ingatan dan tarombo. Begitu juga  marga-marga Harahap yang telah berdam bergenerasi di tanah perantauan; mereka juga berusaha menemukan asal usul di Bona Bulu silam lewat hubungan kekerabatan dengan para sipungka hu-ta menurut garis laki-laki atau patrilenial, seperti: ayah, kakek, Amang Tobang, dan seterusnya keatas.  
Dalam komunitas Batak dikenal “suhut” untuk menyatakan keluarga kecil yang ada dalam masyarakat terdiri dari: ayah, ibu, dan satu atau lebih anak. Selain dari itu ada pula “kahanggi”  untuk menyatakan kumpulan keluarga yang bermarga sama, datang dari ayah, kakek, Amang Tobang, dan lainnya keatas yang masih bersaudara. Agar hubungan kekerabatan tidak hilang ditelan waktu, menempuh generasi, menelusuri zaman oleh suku-bangsa Batak dibuatlah taro-mbo. Adapun yang disebut akhir ini tidak lain dari daftar nama orang-orag yang bermarga sama, awalnya disuratkan pada kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya, dalam aksara Batak, melahirkan bangun piramida. Dalam bahasa Indonesia tarombo disebut “pohon keluarga”, terjemahan dari bahasa Belanda: “stamboom”, atau bahasa Inggris: “family tree”. Tarombo dalam masyarakat Batak adalah kumpulan nama-nama kahanggi yang mempunyai hubungan kekerabatan datang suatu marga, dalam hal ini marga Harahap dari Hanopan menurut garis kebapaan, atau patrilenial.
Dengan kedatangan agama Islam yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 Masehi, dan ma-suk ke Tanah Batak dalam Perang Paderi yang memperkenalkan aksara Arab, tarombo lalu beralih disuratkan dalam aksara Arab. Dan dengan diperkenalkannya huruf Latin oleh pemerintah Hindia Belanda lewat pendidikan Barat menjelang abad ke-20, tarombo yang disimpan dan dipelihara marga-marga Harahap dari berbagai Huta dan Luhat di Tapanuli Selatan lalu dialihkan penyuratannya ke aksara Latin. Dari tarombo demikian dapat diketahui hubungan kekerabatan keluarga-keluarga yang bermarga Harahap datang dari beragam kampung di Bona Bulu sampai dengan mereka yang telah bermukim di tanah perantauan. Lewat tarombo demikian dapat juga diketahui pertalian darah antara berbagai marga di Tanah Batak yang menjadikan keluarga besar bernama: “Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga)”, dalam ko-munitas Batak di Tapanuli, maupun yang telah lahir dan besar di  tanah perantauan: Nusantara dan Mancanegara.
Hingga saat ini tarombo masih dipelihara dan dikembangkan oleh berbagai marga dalam ko-munitas  Batak mulai dari Bona Bulu sampai ke tanah perantauan oleh para Sipungka Huta, baik diperoleh dari peninggalan generasi pendahulu, maupun yang kemudian dikembangkan lewat penelusuran ulang, untuk disampaikan kepada generasi penerus di kampung halaman maupun tanah perantauan. Kota Padang Sidempuan dengan wilayah sekitarnya menjadi asal marga Harahap di Bona Bulu yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan. Di Utara terdapat kampung-kampung asal marga Harahap, seperti: Losung Batu, Hutaimbaru dan Siharangkarang. Di tengah kota ada pula Batuna Dua yang menjadi kampung asal marga Harahap. Di Timur kota, kini termasuk kecamatan Padang Sidempuan Timur, ada pula kampung marga Harahap yang berasal dari Pargarutan. Di Selatan kota terdapat juga kampung marga Harahap yang berasal dari Pijor Koling. Di sebelah Barat kota, kini termasuk kecamatan Padang Sidempuan Barat, terdapat kampung marga Harahap yang berasal dari Hanopan dan Sidangkal.  

Sipirok
Sejak pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan pendidikan di Tanah-air tahun 1880, dalam rentang waktu sekitar satu abad, tidak sedikit putera dan puteri dari beragam Luhat dan Huta di Tanah Batak mengenyam pendidikan Barat, mulai rendah di daerahnya, menjadi: murid Sekolah Gouvernement (Sekolah Pemerintah) yang dinamakan: Volks School (Sekolah Rakyat) 3 tahun: terdiri dari kelas I, II, dan III, berbahasa Batak dan Melajoe, tulis Latin; begitu juga  kelanjutannya saat itu: Vervolg School (Sekolah Sambungan) 2 tahun, terdiri dari: kelas IV dan V. Untuk meneruskan pelajaran ke Vervolg School, murid-murid perlu diseleksi terlebih dahulu  melaui ujian saringan. Kemudian  kedua jenjang pendidikan digabung yang kemudian dikenal dengan nama: Sekolah Melajoe.
Setelah memasuki usia sekolah Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan kemudian dikirim orang tuanya Sipirok untuk mengikuti Sekolah Melajoe di kota itu. Dan se-telah menerima tanda: “Tammat Belajar” dari perguruan, beliau lalu kembali ke kampung asal-nya di Bunga Bondar.
Kilas Sejarah
Sebelum orang Belanda masuk ke Tanah Batak tahun 1833, wilayah itu sebetulnya telah terbagi kedalam berbagai Luhat, dan setiap daripadanya mempunyai pemerintah sendiri yang ber-sifat otonom; mereka belum mengenal adanya pemerintah pusat yang mengatur kehidupan mereka dan rakyatnya dari luar. Diantara berbagai Luhat yang ada di Tapanuli Selatan dapat disebutkan: Luhat Sipirok, Luhat Angkola, Luhat Marancar, Luhat Padang Bolak, Luhat Baru-mun, Luhat Mandailing, Luhat Batang Natal, Luhat Natal, Luhat Sipiongot dan Luhat Pakantan. Seluruh Luhat yang ada di Tapanuli menempati kawasan sebelah Utara pulau Sumatera: di Utara berbatasan dengan Aceh, di Timur berbatasan dengan Tanah Melayu, di Selatan berbatasan de-ngan  Minangkabau, dan di Barat berbatasan Samudera Hindia. 
Luhat, disebut juga Banua, saat itu masih merupakan satu kesatuan genealogi wilayah, atau terri-torial, berada dibawah pemerintahan yang dilakukan menurut Adat Batak berlandaskan ke-kerabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga) sebagaimana tercantum dalam surat Tumbaga Holing yang diajarkan leluhu. Setiap Luhat atau Banua, selain berdiri sendiri juga sederajat satu sama lain. Pucuk pimpinan Luhat ialah Raja Panusunan Bulung (RPB), awalnya datang dari  keluarga-keluarga Sisuan Haruaya (penanam pohon Beringin atau mereka yang mendirikan Luhat) di kawasan itu. Dalam kebanyakan Luhat bernaung seumlah Huta atau Kampung, yang juga dikenal dengan Bona Bulu (Pohon Bambu), karena pada zaan dahulu Huta memang diberi berpagar rumpun bambu untuk melindungi Kampung dari musuh yang menyerang. Ada pula  Bona Bulu yang membawahi sejumlah Kampung yang dinamakan Pagaran (Anak Kampung).
Huta selain tempat berdiam juga lahan tempat mencari nafkah oleh adanya: sawah, ladang; perairan (sungai, danau, laut), padang, semak/belukar, hutan, lembah, dan pegunungan mengita-ri, darimana sejumlah kebutuhan hidup diperoleh. Pucuk pimpinan Huta ialah Raja Pamusuk, awalnya datang dari keluarga-keluarga Sisuan Bulu (penanam Bambu atau yang mendirikan  Kampung) di tempat pemukiman. Huta yang banyak penghuninya oleh kesuburan tanahnya, ka-ya lingkungan alamnya, juga dipimpin Raja Pamusuk, meski dibantu oleh Kepala Ripe (Kepala Keluarga).         
Raja dalam pengertian masyarakat Batak bukanlah seorang penguasa sebagaimana yang dia-jarkan dalam buku sejarah Eropa di zaman feodal yang diajarkan di sekolah-sekolah menengah, akan tetapi adalah seorang yang dihormati di kalangan yang dikenal dengan: Hatobangon ni Luhat atau Huta (Tetua Luhat atau Huta), karena selain pandai juga memilikii banyak pengeta-huan dan pengalaman hidup; tepatnya seorang bijak dari kalangan mereka (Primus Interpares) datang dari keluarga para pendiri Luhat dan Huta. Ia juga  disebut dalam Adat Batak: Haruaya Parsilaungan (Beringin Tempat Bernaung), di Angkola dan Sipirok dikenal dengan: Banir Parkolipkolipan, dan di Mandailing disebut Banir Parondingondingan.
Adapun sistim pemerintahan sentralistik pertama kali diperkenalkan di oleh pemerintah Hindia Belanda di Tanah Batak dengan menempatkan Asistent Resident Nederlads Indie (Asisten Residen Hindia Belanda) di Natal, dilanjutkan seorang Resident Nederlands Indie (Residen Hindia Belanda) di Sibolga. Pemerintah Belanda di Tanah Batak ketika itu adalah bagian dari pe-merintah Hindia Belanda yang menguasai nusantara berkedudukan di Batavia, pulau Jawa,  yang dipimpin seorang Gouverneur-Generaal Nederlads Indie (Gubernur-Jenderal Hindia Belanda). Gubernur-Jenderal Belanda di Batavia saat itu ialah wakil Raja Belanda yang berkedudukan di Den Haag, Eropa, untuk mengurus tanah jajahan Belanda seberang lautan bernama Oost Nederlands Indie (ONI) atau Hindia Belanda Timur (HBT). Raja Belanda masih mempunyai  tanah jajahan seberang lautan lain ketika itu bernama West Nederlands Indie (WNI) atau Hindia Belanda Barat (HBB), dan yang terakhir dikenal dengan Suriname terdapat di Amerika Selatan.
Awalnya, pemerintah Hindia Belanda menamakan Afdeeling Batak Landen (subbagian Tanah Batak) untuk kawasan yang ada disekitar danau Toba dengan ibukota Tarutung. Subbagian Tanah Batak yang lain dinamakan Afdeeling Padang Sidempuan untuk Tapanuli Selatan, dan Afdeeling Sibolga untuk Tapanuli Tengah. Penggabungan ketiga Afdeeling menjadi keresidenan Tapanuli dalam lingkungan pemerintahan Hindia Belanda muncul dari hasil penelitian Etnoloog (Belanda) atau Etnologist (Inggris), yakni ahli bangsa berikut suku-sukunya asal Belanda yang menemukan kesatuan logat (bahasa) dan adat-istiadat yang tampak jelas dalam masyarakat dalam ketiga afdeeling, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun upacara adat. Lingkungan alam yang memudahkan perhubungan, kekerabatan, perkawinan, dan agama, juga turut berperan terhadap hasil penelitian ketika itu. Pemerintahan Hindia Belanda lalu mengelompokkan suku-suku bangsa Batak yang mendiami daratan pulau Sumatera menurut logat dan adatnya kedalam sejumah puak, yakni: Karo, Simalungun, Pakpak dan Dairi, Toba, Angkola, dan Mandailing, yang dikenal luas sampai kini.
Pada tahun 1867 Tanah Batak masih menjadi bagian dari Gouvernement van West Kust (Guber-nemen Sumatera Barat) yang berkedudukan di Padang, Sumatera Barat, dengan ibukotanya Pa-dang Sidempuan. Lalu pada tahun 1906, Tanah Batak memisahkan diri dan membentuk keresi-denan Tapanuli dengan ibukotanya Sibolga. Keresidenan Tapanuli kemudian dibagi kedalam dua Afdeeling oleh pemerintah Hindia Belanda, masing-masing: Afdeeling Tapanuli Utara dibawah  Asisten Residen berkedudukan di Tarutung, dan Afdeeling Tapanuli Selatan dibawah Asisten Residen berkedudukan di Padang Sidempuan. Afdeeling akhir ini oleh pemerintah Hindia Belanda dipecah menjadi 8 (delapan) Onderafdeeling, yang setiap darinya dipimpin seorang Controleur berkedudukan di: Batang Toru, Angkola, Sipirok, Padang Bolak, Barumun, Manda-iling, Ulu dan Pakantan, dan Natal.
Dibawah Onderafdeeling pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Distrik yang dipimpin oleh seorang Demang. Dibawa Distrik diperkenalkannya Onderdistrik dipimpin Asisten De-mang. Dibawah asisten Demang pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Kuria yang me-mimpin Hakuriaan (Kekuriaan) untuk membawahi Huta berikut sawah ladang dan lingkungan la-innya. Kata Kuria berasal dari Curia, istilah pemerintahan yang terdapat dalam Gereja Katholik di Vatikan, Roma, Italia; lalu oleh pemerintah Hindia Belanda diperkenalkan di Tanah Batak. Dari Curia lalu ditulis Kuria, melahirkan istilah Hakuriaan dalam bahasa Batak. Dengan Hakuriaan pemerintah Hindia Belanda berusaha menghilangkan kata Luhat atau Banua dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB) dari peredaran, yang ketika itu tengah bersemayam dalam fikiran o-rang-orang Batak yang menjadi kebanggaan daerah. Meski pemerintah Hindia Belanda tampak-nya tidak berminat mencampuri urusan pemerintahan Huta yang dijalankan sesuai Adat Batak setempat, akan tetapi dalam pelaksanaannya Belanda banyak mempengaruhi siapa yang sela-yaknya dijadikan Raja Pamusuk untuk memimpin sebuah Huta.
Dengan semakin merosotnya anggaran pendapatan pemerintah Hindia Belanda di Tapanuli Selatan, onderafdeeling yang delapan bilangannya ketika itu, lalu disusutkan menjadi 4 (empat), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Mandailing Besar dan Kecil Ulu serta Pakantan, Natal dan Batang Natal, dan Padang Lawas. Dan menjelang bertekuk lutut kepada Jepang, pemerintah  Hindia Belanda lalu menyusutkan lagi keempat Onderafdeeling menjadi 3 (tiga), masing-masing: Angkola dan Sipirok, Padang Lawas, Mandailing dan Natal.
Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan dengan istrinya Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor, boru Regar dari Bunga Bondar, putri Ja Diatas Siregar, mendapat karunia tiga orang anak, semuanya laki-laki, masing-masing:.
                1. Abdul Hamid Harahap, lahir di Bunga Bondar….tahun 1876.
                2. Kasim Harahap, lahir di Bunga Bondar ….tahun 1881.
                3. Rakhmat Harahap, lahir di Bunga Bondar ….ahun 1883.
Setelah Inang Tobang Giring Siregar, gelar Ompu ni Sutor berpulang ke Rakhmatullah, beliau   digantikan ….…., gelar Ompu ni Kasibun.
               
Menunaikan Ibadah Haji ke Mekah di Madinah
Pada bulanana Desember 1927 Amang Tobang Baginda Parbalohan melakukan peralanan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah, Saudi Arabia. Adapun rombo-ngan yang berangkat dari Tanah-air terdiri dari  (lima) orang: Amang Tobang Baginda Parba-lohan, Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Amang Tobang Kampung Harahap dari Bunga Bondar, Ompung Rachmat Harahap dari Hanopan, dan Uda Nurdin Harahap dari Hanopan yang akan belajar agama di Tanah Suci. Mereka berangkat dari Belawan naik kapal laut menuju Jeddah di Saudi Arabia. Rombongan berhasil menunaikan ibadah haji selama di Tanah Suci, lalu setelah melakukan tawaf wada bersiap kembali ke Tanah-air. Setelah menyelesaikan ibadah haji Amang Tobang Sengel Harahap (1846-1928), gelar Baginda Parbalohan, memperoleh nama baru, masing-masing: Haji Tuan Syekh Muhammad Yunus; Amang Tobang Kampung Harahap mendapat nama Haji Tuan Syekh Muhammad Jalil; Ompung Rachmat Harahap mendapat na-ma Haji Sutan Nabonggal; Uda Nurdin Harahap mendapat nama: Haji Nurdin. Yang disebut akhir ini harus tinggal di Mekah untuk belajar agama, sehingga rombongan yang kembali ke Ta-nah-air tinggal 4 (empat) orang, yakni: Amang Tobang, Inang Tobang, Amang Tobang Kam-pung Harahap, Ompung Rachmat Harahap.

Amang Tobang Berpulang ke Rahmatullah
Selama di Mekah di akhir perjalanan menunaikan ibadah haji, Amang Tobang masih menunjuk-kan keadaan badan sehat dan melakukan tawaf wada mengitari mengitari Ka’bah. Rombongan lalu naik kendaraan yang akan mengantarkan mereka menuju Jeddah, dimana kapal yang akan membawa kembali ke Tanah-air berlabuh. Rombongan yang awalnya terdiri dari 5 (lima) orang lalu kembali ke tanah-air 4 (empat) orang. Dalam perjalanan kembali menuju Jeddah naik bus, dengan tidak memperlihatkan gangguan kesehatan kecuali usia yang telah lanjut, Amang Tobang tiba-tiba merasa tidak enak badan lalu lemah. Ia kemudian dipeluk oleh adiknya Amang Tobang Tuan Syekh Muhammad Jalil dan anaknya Opung Haji Abdullah Umar. Dikabarkan beliau ber-pulang ke Rachmatullah dalam peralanan menuju ke Jeddah, kemudian dimakamkan di kota pelabuhan Saudi Arabia itu tahun 1928.
Wafatnya Amang Tobang Baginda Parbalohan di Tanah Suci, menyebabkan rombongan yang terdiri dari 4 (empat) orang kembali ke Tanah-air tinggal 3 (tiga) orang, yakni: Inang Tobang Ompu ni Kasibun, Amangtobang Syeh Muhammad Jalil, dan Opung Sutan Nabonggal. Setiba  rombongan di Bona Bulu mereka disambut dengan isak tangis duka kehilangan yang dalam.  Setibanya di Bunga Bondar, di simpang empat Bunga Bondar, di rumah tempat kelahiran Amang Tobang Baginda Parbalohan rombongan disambut deraian air mata ketika mengetahui pimpinan rombongan tidak turut kembali karena telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah. Kahanggi yang berdiam di rumah itu, kaum kerabat, kenalan, dan handai tolan datang meramaikan suasana untuk menyampaiken rasa duka atas kehilangan orang yang sangat mereka dicintai.
Mereka datang melayat bergantian untuk menyampaikan rasa duka yang dalam kepada rom-bongan dan sanak keluarga terdekat yang ditinggalkan. Maklum ketika itu belum ada sarana komunikasi yang dapat mengirim khabar duka dengan cepat ke Hanopan dan Bunga Bondar; dan satusatunya jalan berita sampai di kampung halaman ialah yang disampaikan rombongan haji yang kembali dari Tanah Suci setelah menunaikan rukun Islam kelima. Para pelayat mengharap ketabahan dan kesabaran rombongan dan sanak keluarga dekat yang terdapat di Bunga Bundar, serta bertawakkal kepada Allah Suhanahu Wataala atas musibah yang terjadi. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran ul Karim lalu dikumandangkan di rumah duka di Bunga Bondar.
Dari Bunga Bondar rombongan melanjutkan perjalanan ke Hanopan. Dari 3 (tiga) orang anggota keluarga yang pulang dari Tanah Suci kini tinggal 2 (dua) orang, masing-masing: Inang Tobang Ompu ni Kasibun dan Opung Sutan Nabonggal, karena Amang Tobang Tuan Syeh Muhammad Jalil berasal dari Bunga Bondar. Namun Amang Tobang ini ikut juga ke Hanopan untuk ber-kumpul di Bagas Godang Hanopan menyampikan khabar duka kepada keluarga dan sanak saudara. Di Hanopan rombongan kembali disambut dengan deraian air mata saat mengetahui bahwa Amang-tobang Baginda Parbalohan, Raja Pamusuk di kampung itu, telah berpulang ke Rakh-matullah dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Acara menurut Adat Batak lalu diselenggarakan sehubungan dengan berpulangnya Raja Pamu-suk pertama di kampung Hanopan. Pembacaan ayat-ayat suci dari Al-Quran pun dilangsungkan dengan tahlilan guna memanjatkan doa untuk almarhum Amang Tobang Baginda Parbalohan dan kedua orang tuanya yang telah berpulang ke Rakhmatullah di waktu silam, agar kepada se-mua yang ditinggalkan diturunkanNya kesabaran dan ketabahan menghadapi kedukaan yang sedang melanda ditinggal Amang Tobang Baginda Parbalohann karena beliau telah dipanggil  Sang Khalik untuk menghadapNya. Amin.
Surat Wasiat
Sebelum Amang Tobang Baginda Parbalohan bersama rombongan meninggalkan Tanah Air menuju Tanah Suci, beliau membuat sebuah surat wasiat kepada ketiga orang putra yang disayanginya sebagaimana yang tertulis dalam surat partinggal dibawah ini:

SURAT PARTINGGAL

HAJI SENGEL HARAHAP
(1846-1928)
GELAR
BAGINDA PARBALOHAN
OMPU NI SUTOR
TUAN SYEKH MUHAMMAD YUNUS

(Ditulis tanggal 3 Desember 1927 dalam aksara Batak, di Hanopan)

     On ma suratku partinggal di hamu amang. Ulang hamu marbadai anso manjadi pancarian munu. Taringot tu saba julu madung ta bagi do i. Olat ni bondar tu balok ni si Gardok dohot pan-jaean ni si Badul, i ma di si Kasim. Saba na hu baen i, muda mate au, tinggal di si Rachmat tamba ni saba na dibaennia. Bagian ni si Badul ima saba tonga sian julu Ja Saidi, sian jae si Kariaman dohot si Mamin. Nadung tahinta do i najolo.
     Taringot tu bagas dohot parbagasan ulang hamu amang marsietongan. Na di pakarangan ni si Kasim tinggal disia harambir dua batang, pining, bulu, parira, bakore. Di si Rachmat harambir na di kobun ni Baginda Pangibulan, i ma sada na dilambung sopo ni si Gardok.
       Taringot tu bagas godang on amang madung huisinkon di si Badul, umbahat do poko nia tusi. Nada tola dohononmunu partopan bagas i. Harambir dua batang, unte sabatang, jambu sabatang, lancat sabatang, mangga dua batang. Harambir na di sopo Nagodang i si Badul do nampuna i dohot kuéni i.

     Amang jagit hamu ma sipaingotkon:

                                             Indalu batiti, indalu batonang,
                                             indalu pasitik manuk butongan.

     Amang, anggo saba jae nada bagian munu be i, panjaean ni pahompu siangkaan, dohot bagian ni boru pahompu dohot ibotongku; bagianna songon on:
                 Saba i lima ruang.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------
                 Dua roeang sian joeloe on i ma bagian ni si Sutor dohot  tobat dohot sopona lopus tu Bagin-
                 da Pangibulan.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------
                 Ruang patoluhon i ma bagian ni si Bahat lopus tu bondar ni Ja Tahanan.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------
                 Ruang paopatkon dibagi dua: Satonga di si Sento dohot si Sanne, na satonga nari di pahom-
                 mpu dadaboru sudena. Onom tangga di iboto hasurungan rimbaonna.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------
                 Ruang parjae i ma bagian ni si Dimpu lopus tu bondar ni Ja Tahanan.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------
                 Amang, bagian ni boru on nada tola gadison ni halahi. Muda mate boru nada adong panyun-        
                 dutna nada taruli bagian be. Anso tongtong adong bagian ni boru mamanjang, manjujung ha-
                 mu.
                 --------------------------------------------------------------------------------------------

Amang natolu sinmanjujung:

                                           Ulang hamu mangalaosi patik nanibaen 
                                           ni amamu, gusar Tuhan di hamu.

    Taringot tu hapea i. Hapea na tobang on ma di si Sutor lalu tu aek i. Hapea naposo on dibagi dua: satonga sian jae di si Bahat, sian julu di si Dimpu.
Amang, tai anggo laing mangolu dope inangmu, nada tola buatonmunu saba jae sudena dohot hapea, anggo diboto ia aturan maranak di hamu.
     Antong horasma di anak, horas di parumaen, horas di pahompu, sude dadaboru dohot halaklahi. Botima.
Amang, taringot tu pahompu halaklahi i sudena ima lombu na di Padang Bolak na salapan bolas i. Ima bagi hamu di halahi, dosdos bagi hamu. Bulu soma parjulu di si Bahat. Bulu surat di si Dimpu. Bulu poring, bulu soma na di kobun i di si Sutor.
Tobat na di julu ni hapea natobang i dohot pakaranganna madung hu lehen di si Peli sudena.
     Madabu sada, madabu dua, ilu sipareon ni amamu.

Botima,

Horas ma di pomparanku sudena!


BAGINDA PARBALOHAN

3-12-‘27


Keterangan:
1. Surat Partinggal Amang Tobang ini ditulis di Hanopan dalam Aksara Batak ditemukan
    dalam arsip Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan, cucu tertua, putra sulung dari
    Sutan Hanopan.
2. Alih aksara dari Batak ke Latin dalam Bahasa Batak, dikerjakan cucu Baginda  Parbalo-
    han bernama H.M.Diri Harahap S.H., putra ke-8 Sutan Hanopan pada tanggal 26 Okto-
    ber 1974, di kediamannya di jalan Hang Tuah VIII/8, Kebayoran Baru, Jakarta.
3. Sento Harahap adalah adik perempuan Baginda Parbalohan yang menikah dengan Ja Kola
    dari Batu Horpak.
4. Sanne Harahap juga adik perempuan Baginda Parbalohan yang menikah dengan Baginda
    Hinalongan dari Bunga Bondar.
5. Kenis Harahap, gelar Baginda Pangibulan, Ompu ni Kaja, ialah adik kandung Baginda Par-
    balohan ke-14 yang tinggal di Hanopan.
6. Gardok Harahap, gelar Baginda Malim Muhammad Rahim, Ompu ni Marasali ialah adik
    kandung Baginda Parbalohan ke-15 yang juga tinggal di Hanopan.
7. Badul ialah nama kecil Abdul Hamid Harahap, Ompu ni Amir halak lahi, Tuan Datu Singar,
    gelar Sutan Hanopan, anak tertua, ialah putera sulung Baginda Parbalohan yang berdiam
    di Hanopan.
8. Kasim ialah nama kecil Mangaraja Elias Hamonangan, Ompu ni Paulina halak lahi, gelar
    Tongku Mangaraja Elias Hamonangan, ialah putera kedua Baginda Parbalohan yang juga
    berdiam di Hanopan.
9. Rachmat ialah nama kecil Haji Abdullah Umar, Ompu ni Mina halak lahi, gelar Sutan Na-
    bonggal, ialah putera ketiga, anak bungsu dari Baginda Parbalohan yang menenemaninya
    menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci di Mekah dan Madinah pada tanggal 3 Desember
    1927 juga berdiam di Hanopan.
10. Sutor Harahap, gelar Baginda Pandapotan ialah putera tertua Sutan Hanopan, cucu sulung
      Baginda Parbalohan dari putera yang sulung.
11. Dimpu Harahap, gelar Baginda Parbalohan (Naposo) ialah anak laki-laki tertua dari Manga-
      raja Elias Hamonangan, cucu tertua Baginda Parbalohan dari puteranya yang kedua.
12. Bahat Harahap, ialah putera sulung Sutan Nabonggal, cucu tertua Baginda Parbalohan dari
      putera ketiganya.
13. Pelinuruddin Harahap, Haji Muhammad Nurdin, putera Sutan Hanopan yang kelima, cucu Ba-
      ginda Parbalohan yang menemani melaksanakan Ibadah Hadji ke Tanah Suci, sekaligus bela-
      jar agama Islam disana.
14. Mamin, warga kampung Hanopan.
15. Ja Saidi, warga kampung Hanopan.
16. Kariaman, warga kampung Hanopan.
17. Ja Tahanan, warga kampung Hanopan.

                                                                               Alih bahasa dari Batak ke Latin oleh
                                                                               cucunya: H. M. Diri Harahap S.H.,
                                                                               gelar Baginda Raja Mulia Pinayungan.
                                                                               Lalu, pada tanggal 19 Mei 2009 diberi k                                              
                                                                               rangan oleh cicitnya: H.M.Rusli Harahap,                                                                                                                                         
                                                                               gelar Sutan Hamonangan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        
.

Pasidung Ari Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan

Karena Amang Tobang Baginda Parbalohan bepulang ke Rakmatullah dalam perjalanan kembali dari Mekah menuju  Jeddah, maka beliau dimakamkan di kota akhir ini. Meskipun demikian di dalam Bale Julu di Hanopan, dibuatkan juga makamnya untuk mengenang orang yang telah berjasa mendirikan kampung Marga Harahap di Luhat Sipirok, dengan menuliskan keterangan bahwa beliau di makamkan di Jeddah pada tahun 1928. Terniat dalam hati untuk membawa pu-lang “Saring-saringan” beliau yang begitu dicintai, akan tetapi karena tidak lagi dapat dilakukan maka dilakukanlah sebagaimana apa yang terlihat di Bale Jae ini. Amang Tobang Baginda Par-balohan pernah “berwasiat” kepada pomparannya agar membawa pulang ke Hanopan saring-saringan kaum kerabat yang berulang ke Rachmatulh dari perantauan dimanapun berada.
Melaksanakan Pasidung Ari Amang Tobang  
1. Menyampaikan undangan Pasidung Ari almarhum Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan   kepada: Dalihan na Tolu, Hatobangon, dan Harajaon, mulai dari Hanopan, Bunga Bondar, Pa-rau Sorat, hingga Panggulangan.
2. Para penyelenggara Acara Pasidung Ari.
           a. Raja Panusunan Bulung
           b. Paralok-alok na Pande
           c. Suhut Sihabolonan
           d. Kahanggi
           e. Hombar Suhut/Pareban
           f. Anak Boru
           g. Pisang Raut/Sibuat Bere
           h. Mora
           i. Hatobangon ni Huta Hanopan (Namora Natoras):
           j. Raja ni Huta Hanopan
           k. Raja-raja ni Huta Torbing Balok
           l. Raja-raja Luat ni Desa na Walu.

3. Pemasangan bendera-bendera adat di depan rumah duka di Bagas Godang Hanopan.
4. Mengeluakan Perbendaharaan Adat:
       a. Bulang
       b. Koper berisi pakaian peninggalan almarhum.
       c. Abit Godang (Abit Batak, atau Ulos)
       d. Tikar Lapis (3, 5, atau 7 lapis)
       e. Burangir Nahombang dan Burangir Panyurduan.
       f. Payung Rarangan
       g. Bendera
       h. Tombak, Podang
       i. Tawak-tawak
       j. Tanduk Kerbau
5. Acara Adat Pasidung Ari
     I.  Pemakaman Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalihan, telah berlang-
          sung di Jeddah Saudi Arabia tahun  1928.
   II. Upacara Adat Pasidung Ari.
         a. Menyembelih hewan Nabontar (Kerbau) di halaman Bagas Godang Hanopan.
         b. Menyiapkan ruangan.
         c. Dalihan Na Tolu, Hatobangon, Harajaon, dan masyarakat mengambil tempat dalam ru-
             ang tengah Bagas Godang Hanopan.

Bagian Pertama
(Sidang para Raja tanpa kaum ibu)
        d. Sidang Adat Haruaya Mardomu Bulung dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB).
        e. Orang Kaya pembawa acara minta anakboru manyurduhon burangir (panyurduan dan    
            nahombang) dan meletakkan keduanya dihadapan Raja Panusunan Bulung.
        f. Orang Kaya minta kepada Suhut Sihabolonan menyampaikan isi hatinya. Adapun 
            pokok pembicaraan ialah:   
               - melaporkan kepada Raja bahwa: Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan
                 Raja Pamusuk di Hanopan telah berpulang ke Rachmatullah di Jeddah.
               - memohon kepada para Raja untuk menyampaikan khabar duka pada khalayak ramai.
               - bahwa keluarga almarhum telah menyelesaikan semua hutang adat (mandali), dan
                 diperkenankan menyelenggarakan horja siriaon.
               - memohon kepada para Raja untuk menyaksikan Suhut Sihabolonan menghadap
                 Moranya agar secara resmi menyampaikan berita duka ini.
       g. Setelah Suhut Sihabolonan berbicara, kemudia disusul Pareban, Anakbpru, Pisang, Raut,
           Mora, Hatobangon, Harajaon, sampai dengan Raja-raja torbing balok.
       h. Setelah seluruhnya berbicara, Raja Panusunan Bulung memutuskan untuk mengabulkan    
           seluruh permohonan Suhut Sihabolonan.

 Pembacaan doa, lalu sidang adat bagian pertama selesai.  

      i. Pembagian daging Nabontar terjinjing baiyon loging dibagikan kepada seluruh yang hadir 
para peserta sidang pasidung ari.
         Inilah cara Adat Batak untuk menyebarluaskan khabar duka di Bona Bulu kepada
         masyarakat, bahwa
Amang Tobang: Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan,
         telah berpulang ke Rachmaullah dari tengah para hadirin semua. 
         Adapun cara pembagian nabontar yang masih berlaku hingga kini di Bona Bulu ialah
         sebagai berikut:
                                  1. Suhut dan Kahanggi : ate-ate dan pusu-pusu.
                                      (maksudnya agar sapangkilalaan, artinya sependeritaan)
                                  2. Anakboru : juhut jantung, udut rungkung
                                      (artinya: yang mempunyai kekuatan untuk manjuljulkon)
                                  3. Pisang Raut : juhut holi-holi dan kaki depan.
                                      (maknanya: agar cekatan dan rajin bekerja)
                                  4. Raja-raja dan Hatobangon : juhut na marbobak, sude gorar-goraran.
                                      (maknanya: agar menjadi pangidoan na bisuk dohot uhum)
                                  5. Raja Panusunan Bulung : lancinok sude gorar-goraran
                                      (maknanya: tempat memperoleh parsilaungan, paronding-ondingan)
                                  6. Mora tulan rincan, gorar-goraran
                                      (maknanya: tempat memomohon sahala dohot bisuk).
                                  Ketika menyerahkan bagian Mora, daging diletakkan diatas anduri ber-
                                  alaskan daun pisang, lalu ditutup daun yang sama dari atas kemudian
                                  diatas semuanya ditempatkan abit Batak.

Bagian Kedua
(Sidang Dalihan Natolu yang dihadiri kaum ibu)  
Raja Panusunan Bulung, Raja Pamusuk, Harajaon Torbing Balok, dan Hatobangon bertindak se-bagai saksi terhadap jalan persidangan.
   a. Menyerahkan Hasaya ni Karejo dilakukan oleh Suhut Sihabolonan:
       1. Kepada Mora: tulan rincan, ate-ate, mata, dan pinggol diletakkan diatas anduri beralaskan    
           daun pisang.
           Mora menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.
       2. Kepada Anakboru: udut rungkung, juhut jantung diletakkan diatas anduri beralaskan daun    
           pisang.
           Anakboru menebus dengan kembalian diatas Pinggan Raja (porselen) bertabur beras.
       3. Suhut Sihabolonan dan kahanggi menyerahkan pemberian mereka kepada Mora.
   b. Menyiapkan ruangan.
           Mora duduk di juluan berseberangan dengan Suhut, Kahanggi, Anakboru, Pisang Raut,
           mengambil tempat duduk saling berhadapan. Hatobangon dan para Raja duduk disebe-
           lah kanan dan kiri Mora untuk menyaksikan.
    c. Anakboru manyurduhon Burangir.
    d. Suhutsihabolonan mengutarakan isi hatinya kepada Mora, tentang:
                     - bahwa Raja Pamusuk dari Bagas Godang Hanopan telah berpulang ke Rakhma-
                       matullah
                     - agar mora tidak lagi mengharapkan kedatangannya di masa depan memperlihatkan
                       hormat kepada mora sebagaimana yang ditunjukkannya selama ini.
    e. Setelah Suhutsihabolonan berbicara, disusul Pareban, Anakboru, Pisang Raut.
    f. Pakaian peninggalan Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan dalam ko-
        por ditunjukkan kepada mora sebagai “pangitean ni namangolu”, dengan harapan agar mora
        tidak lagi menantikan kedatangan anakboru sebagaimana yang dikerjakannya selama ini.
   g. Mora kemudian menjawab Suhut Sihabolonan dan menerima resmi menerima kopor pening-
       galan almarhum Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan beserta isinya.
       Mora meminta agar isi kopor peninggalan almarhum dibagikan kepada  seluruh kahanggi.

Acara Adat Pasidung Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parbalohan selesai.

Pendidikan dan Pekerjaan Ketiga Putera Baginda Parbalohan
                1. Abdul Hamid Harahap (1876-1939), gelar Sutan Hanopan, juga bernama Tuan Datu
                    Singar. lahir di Bunga Bondar, menempuh pendidikan Sekolah Gouvernement di
                    Sipirok. Pekerjaannya menjadi Raja Pamusuk di Hanopan setelah ayahnya Baginda
                    Parbalohan berpulang ke Rakhmatullah di Jeddah pada tahun 1928.
                2. Kasim Harahap (1881-1944), Tongku Mangaraja Elias Hamonangan lahir di Bunga
                    Bondar. menempuh pendidikan Sekolah Gouvenement di Sipirok. Pekerjaan menja-
                    di Raja Pamusuk di Hanopan setelah Sutan Hanopan wafat tahun 1939.
                3. Rakhmat Harahap (1883-1962), gelar Sutan Nabonggal lahir di Bunga Bondar.
                    Ompung Sutan Nabonggal menyertai ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah 
                    dan madinah tahun 1927 memperoleh gelar Haji Abdullah Umar.
Amang Tobang Menikahkan Ketiga Putera bersama para cucu:
                1. Ompung Sutan Hanopan menikah dengan Dorima Siregar, gelar Ompu ni Amir
                    Boru Regar dari Bunga Bondar, putri Sutan Bungabondar. Adapun keturunannya: 
                                               1. Sutor, lahir 15 Juni 1896 di Bunga Bondar.
                                               2. Maujalo, lahir 10 September 1901 di Bunga Bondar.
                                               3. Siti Angur (pr), lahir ….  1905 di Hanopan.
                                               4. Dumasari (pr), lahir …. 1908 di Hanopan.
                                               5. Pelinuruddin, lahir …..1911 di Hanopan.
                                               6. Aminah (pr), lahir …..1912 di Hanopan.
                                               7. Sorimuda (Hisar), lahir ….. 1913 di Hanopan.
                                               8. Diri (Din), lahir ….. 1915 di Hanopan.
                                               9. Muhammad, lahir …..1917 di Hanopan.
                                             10. Khairani (Erjep, pr), lahir ……1920, di Hanopan.
                                             11. Marajali, lahir……1922 di Hanopan.
                                             12. Pamusuk, lahir …..1925 di Hanopan.

                2. Ompung Tongku Mangaraja Elias Hamonangan menikah dengan Petronella Siregar,
                    gelar Ompu ni Paulina, juga Naduma Bulung Pangondian, boru Regar, putri ke-4  
                    Ompu Raja Oloan Siregar dari Bunga Bondar, Adapun keturunannya:
                                               1. Surto Meta Khristina (Tabiran, pr), lahir…. di Hanopan.
                                               2. Dagar Na Lan (Dagar, pr), lahir…..di Hanopan.
                                               3. Dimpu, lahir….. di Hanopan.
                                               4. Menmen (pr), lahir di Hanopan.
                                               5. Siti Dinar (Dinar, pr), lahir di Hanopan.
                                               6. Partaonan (Parta), lahir di Hanopan.
                                               7. Hakim, lahir di Hanopan.
                                               8. Poma, lahir di Hanopan.
                                               9. Krisna Murti (Murti, pr), lahir di Hanopan.
                                             10. Bagon, lahir…..1922 di Hanopan.
                                             11. Bakhtiar (Samsu), lahir 23 Agustus 1924 di Hanopan.
                                             12. Toga Mulia (Toga), lahir 30 Juli 1928 di Hanopan.
                                             13. Sitiurma (Tiurma, pr), lahir 31 Agustus 1936 di Hanopan.

                3. Ompung Rakhmat Harahap, gelar Sutan Nabonggal, juga Haji Abdullah Umar, de-
                    ngan istri Gorga Siregar, gelar Ompu ni Mina, boru Regar dari Bondar Sampulu, i-
                    boto Sutan Kalisati Siregar. Adapun keturunannya:
                                              1. Bahat, lahir…….di Hanopan.
                                              2. Utir (pr), lahir di Hanopan.
                                              3. Marip, lahir 11 April 1927 di Hanopan.
                                              4. Sahada (pr), lahir di Hanopan.
                                              5. Malige (Lige, pr), lahir di Hanopan.
                                              6. Zainuddin (Sai), lahir di Hanopan.
                                              7. Siti Aisyah (Cia, pr), lahir di Hanopan.

               Semua cucu Amang Tobang Baginda Parbalohan berjumlah 32 orang.



--------selesai-------



          Disusun oleh:
          H.M.Rusli Harahap, 
          gelar Sutan Hamonangan
          Jalan Batu Pancawarna I/2A, Pulomas
          Jakarta 13210. Tel: 472-2243.